Cerita Bli #2 - Hanya Dua Keinginan Itu Saja Untuk Saat Ini, yang Lainnya Tidak Ada
![]() |
| Sumber gambar : https://www.usatoday.com/ |
Hai teman-teman. Apakah kalian memiliki cita-cita, atau keinginan di masa depan? Bli pernah menanyakan tentang ini ke beberapa teman bli di kampus, dan jawabannya beragam. Ada yang sudah menentukan tujuan selanjutnya akan melakukan apa, dan ada juga yang tidak menentukan secara spesifik, namun memilih untuk mengikuti arus saja. Tidak ada yang salah dari dua jawaban di atas, dan itu sah-sah saja. Teman bli yang menjawab telah menentukan arahnya sudah berjalan sesuai jalurnya, begitu juga teman bli yang memilih untuk mengikuti arus tadi, mereka juga sudah menjalani aurs kehidupnya. Perkara pekerjaan itu sesuai dengan jurusan kuliah yang diambil sebelumnya atau tidak, itu juga tidak masalah. Yang penting ilmu-ilmu yang telah dipelajari selama menjadi pelajar hingga mahasiswa itu bisa dimanfaatkan dengan baik.
Baik, bli ingin menyampaikan sesuatu. Bli sudah memasuki tahun ke-6 kuliah. Saat postingan ini dibuat status bli masih mahasiswa, tepatnya mahasiswa semester 12. Sebenarnya secara "normal" hal ini tidaklah memalukan, karena tidak semua orang bisa menjalani segala fase hidup dengan lancar. Tapi mau bagaimanapun juga, bli sangat malu. Jujur bli sangat malu dengan keadaan ini. Bli ingin sesegera mungkin menyelesaikan semua permasalahan ini, namun sayangnya (dan memang seharusnya) semuanya perlu proses dan tidak ada yang instan. Mudah-mudahan bli bisa segera lulus kuliah dan lanjut melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bli inginkan. Bli akan katakan ini sebagai musibah. Kata orang, setiap kejadian itu pasti ada hikmahnya, dan bli cukup percaya dengan pernyataan itu.
Bli mulai masuk kuliah di tahun 2018. Jadi ketika lulus SMK, bli langsung lanjut kuliah. Tanpa bekerja dahulu, dan mengevaluasi diri. Masa-masa akhir SMK bli tidak berjalan dengan baik. Bli berakhir menjadi seorang penyendiri dengan sedikit teman, sebagai seorang pelajar, nilai-nilai yang bli dapatkan cukup bagus, namun karena terlalu bersemangat mencari nilai, hampir semua materi yang bli pelajari tidak ada yang bli pahami, karena pada saat ulangan hanya mengandalkan hafalan sesaat di kepala. Parahnya llagi, bli menjadi pelajar yang kurang update, bahkan dengan perkembangan pendaftaran kuliah. Dan inilah yang mungkin menjadi awal dari kesusahan bli di masa kini. Apa yang bli lewatkan mengenai pendaftaran kuliah? Hal itu adalah soal tenggat waktu pendaftaran SNMPTN, atau yang saat ini disebut SNBP. Yang mana adalah tes masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui nilai rapor dan prestasi. Bli sudah lupa, kenapa bisa melewatkan tenggat itu, yang jelas bli sangat sedih dan kecewa. Seperti yang bli ceritakan tadi, nilai rapor bli selama SMK cukup bagus, meskipun itu hanya nilai di atas kertas, tapi intinya itu lumayan. Alangkah lebih baik, jika bli bisa ikut pendaftaran SNMPTN, meskipun belum tentu lulus, setidaknya masih ada kesempatan. Begitu melewatkan kesempatan itu, bli diam saja dan tidak bercerita kepada orang tua. Lagi pula itu sudah lewat dan bli memutuskan untuk fokus ke jalur pendaftaran SBMPTN, yaitu ujian masuk melalui tes. Ini hanya menurut bli ya, sebenarnya kesempatan seorang pelajar SMK untuk lolos tes SBMPTN itu sangat kecil. Hampir mustahil, karena ilmunya pasti kalah dengan pelajar-pelajar tamatan SMA. Karena fokus pembinaannya berbeda. SMA itu fokus menuntut ilmu, melakukan penelitian, dan berkreasi melalui ekstrakulikuler. Sementara SMK, sejak awal tidak dipersiapkan untuk kuliah. Pelajar SMK itu sebenarnya dipersiapkan untuk langsung bekerja. Sistem pendidikan SMK itu 60:40, 60% pelajaran kejuruan dan 40% pelajaran umum. Dan anehnya, jika siswa SMK itu berusaha untuk menyeimbangkan pendidikan mereka di pelajaran kejuruan dan pelajaran umum, mereka akan menuju ketidakjelasan. Bagi yang masuk ke dalam ketidakjelasan ini, mereka akan bingung dengan jati diri mereka. Mereka bisa melakukan apapun (dan ini memang benar), mempraktekan hal-hal yang dipelajari pada pelajaran kejuruan mereka bisa, memahami apa yang dipelajari di pelajaran umum juga bisa. Tapi tidak ada satupun dari dua hal itu yang mereka jadikan sebagai "expert". Pada akhirnya jadi setengah-setengah". Dan singkat cerita, bli yang lulusan SMK benar saja tidak lulus tes SBMPTN itu.
Bli melakukan beberapa kebodohan pada tahap ini. Tahukan apa itu? Setiap jenjang tes masuk Perguruan Tinggi Negeri, baik itu tes SNMPTN, SBMPTN, maupun tes Mandiri, calon mahasiswanya akan diarahkan untuk mengisi 3 pilihan jurusan kuliah yang ingin dituju. Bli tidak tahu siapa yang awalnya mencetuskan ide ini, tapi tujuannya jelas, yaitu apabila calon mahasiswa gagal bersain di pilihan 1, dia berpotensi bisa masuk di pilihan 2, begitu pula untuk pilihan ke-3 nya. Bli dengan super bodohnya hanya mengisi 1 jurusan kuliah untuk tes SBMPTN itu. Bayangkan... hanya 1 jurusan kuliah, padahal masih ada 2 slot tersisa untuk diisi. Dan satu-satunya jurusan yang bli pilih pada saat itu adalah Jurusan Arsitektur. Alasannya apa? Karena agar sesuai dengan jurusan saat SMK. Kenapa tidak mengisi 2 slot tersisa padahal masih ada puluhan jurusan? Karena jurusan-jurusan lainnya tidak sesuai dengan jurusan saat SMK. Kenapa harus sesuai dengan jurusan SMK? Ya masa berbeda, kan tidak nyambung jadinya. Kenapa bli tetap teguh dengan pilihan jurusan itu? Karena mengikuti saran orang tua yang ingin anaknya menjadi arsitek. Bli jujur sangat sedih saat menulis kalimat ini. Karena bli menulis kalimat ini persis beradadi tempat bli mendaftar ketika mendaftar kuliah. Bli pada waktu itu dengan santainya mendaftar kuliah sendiri. Mendaftar kuliah layaknya seperti akan memesan kamar hotel melalui situs resmi hotel. Bli membuka situs pendaftaran, mengisi data diri, data sekolah, dan lain-lain. Ketika sampai pada pilihan jurusan, bli menelepon ibu bli. Bli lebih dekat dengan ibu daripada dengan bapak, maka dari itu, bli sering mendiskusikan berbagai hal dengan ibu. Bli menelepon ibu dan bertanya, jurusan apa yang sebaiknya harus bli ambil. Ibu bli menyarankan agar bli mendaftar di jurusan arsitektur saja. Ibu bli menjelaskan kalau menjadi arsitek adalah pilihan terbaik bagi bli. Karena bapak bli adalah juga seorang arsitek, koneksi menjadi lebih mudah, dan bli bisa lebih gampang mendapatkan uang dengan menjual desain. Tanpa pikir panjang bli langsung menerima saran itu dan memilih jurusan arsitektur pada pilihan pertama. Di samping itu, jurusan arsitektur juga berkaitan erat dengan jurusan bli saat SMK. Jadi segalanya tampak sangat normal. Kemudian bli melihat pada slot pilihan kedua dan ketiga. Bli mendiskusikan lagi dengan ibu mengenai slot itu. Ibu bli menyarankan dua slot itu tidak usah diisi, pokoknya bli harus menjadi arsitek. Seorang ibu tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Akhirnya dua slot itu bli kosongkan saja dan langsung submit pendaftaran.
Sebuah langkah yang sangat berani sebenarnya bagi seorang lulusan SMK. Bisa-bisanya seorang lulusan SMK berani memilih satu juruan saja, ditambah itu adalah jurusan dengan pesaing yang sangat banyak. Tindakan yang sepertinya siswa lulusan SMA terpintarpun tidak terpikir untuk melakukannya. Dan seperti yang bli ceritakan tadi, bli tidak lulus tes SBMPTN itu. Tidak menyerah, bli lanjut mendaftar di unversitas swasta dengan ketetapan memilih jurusan arsitektur SAJA. Sebuah tindakan yang pada saat bli menulis postingan ini masih bli sesali. Karena lagi-lagi harus beradu otak dengan lulusan SMA dan sebagian kecil lulusan SMK lainnya, bli kembali tidak lulus di universitas swasta. Pada titik ini hampir sejuta uang sudah dikeluarkan hanya untuk mendaftar tes saja. Jadi sudah hampir pertengahan tahun 2018, bli masih belum mendapatkan kampus. Kampus mana juga yang mau menerima calon mahasiswa yang bodoh. Cara terakhir untuk mendapatkan kampus adalah dengan mengikuti tes Mandiri.
Singkat cerita akhirnya bli mandaftar untuk tes Mandiri dan lagi-lagi memilih satu jurusan SAJA. Sampai sekarang bli masih ingat, uang pendaftaran tes Mandiri itu sebesar Rp. 450.000. Dengan ini uang yang bli habiskan hanya untuk mendaftar kuliah saja sudah lebih dari sejuta. Ini semua karena langkah yang diambil tanpa strategi, dan ditambah dengan bumbu kebodohan. Bli pun menjalani tes Mandiri itu di kampus tujuan. Seperti biasa, bli tidak bisa menjawab sebagian besar pertanyaan di tes itu. Dan sampailah pada pengumuman kelulusan. Bli akhirnya dinyatakan lulus dan diterima di kampus tersebut. Saat itu bli sangat senang, orang tusa, dan adik-adik bli menyambut dengan suka cita. Akhirnya bli berkuliah di salah satu kampus ternama dan beljaar di jurusan bergensi, yaitu arsitektur. Setelah lulus tahap seleksi, selanjutnya adalah tahap mendaftar ulang. Seperti yang kita ketahui, untuk mendaftar ulang, calon mahasiswa yang lulus melalui jalur Mandiri wajib membayar uang SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi), mungkin lebih populer dengan sebutan "Uang Gedung". Untuk jurusan arsitektur di kampusnya bli, nominal uang SPI-nya lumayan tinggi. Yaitu sebesar Rp. 30.000.000. Itu masuk ke lima besar nominal tertinggi dari jurusan lainnya. Orang tua bli menyanggupi nominal tersebut dan langsung dibayarkan. Daftar ulang pun selesai dan bli resmi menjadi mahasiswa pada jurusan (program studi) arsitektur.
Bli lanjut mengikuti perkuliahan dengan baik. Bli mengikuti setiap prosesnya, mulai mengenal teman-teman, mulai mengenal dosen. Ya semua berjalan dengan baik. Tapi ada satu hal yang bli sesali, yaitu bli kurang bergaul, dan kurang update dengan perkembangan-perkembangan di kampus. Mungkin karena bli punya cara belajar yang berbeda dari teman-teman bli yang lainnya, hingga bli tidak memiliki waktu untuk bergaul dan ikut berorganisasi. Bli juga sering melewati event-event penting yang disediakan kampus. Itu membuat bli seperti berkuliah, tapi kuliahnya tidak maksimal. Ada sebutan mahasiswa "kupu-kupu" (kuliah-pulang, kuliah-pulang), dulu bli tidak bisa membayangkan adanya eksistensi mahasiswa seperti itu, tapi nyatanya bli lah mahasiswa "kupu-kupu" itu. Bli juga tidak bisa membayangkan ada mahasiswa yang hampir di-DO, tapi nyatanya bli lah kini mahasiswa yang hampir di-DO itu, tepat pada saat postingan ini ditulis.
Di semester satu, bli sudah menorehkan catatan perjalanan yang buruk. Bli tidak lulus satu mata kuliah. Mata kuliah itu adalah bernama Studio Estetika Bentuk. Bli sangat malu, karena pengumuman bahwa bli tidak lulus itu dilakukan di depan teman-teman PA (Pembimbing Akademik). Teman-teman kaget, bli lebih kaget lagi. Ketidak lulusan mata kulian ini menjadi awal dari petaka yang bli alami saat ini. Jika mahasiswa mengalami mata kuliah yang tidak lulus, mahasiswa itu wajib mengulang lagi mata kuliah itu hingga lulus. Dan itulah yang harus bli lakukan. Mata kuliah itu adalah mata kuliah semester ganjil, jadi mata kuliah itu tentu tidak ada pada semester berikutnya (genap). Mata kuliah itu baru ada di semester ganjil berikutnya, yang artinya tahun depannya lagi, lebih tepatnya di semester 3. Namun, saat semester 3, bli tidak mengulang mata kuliah itu, karena ingin menjalani mata kuliah yang berbarengan dengan teman-teman bli lainnya. Ini juga adalah sebuah kesalahan yang fatal. Saat bli menginjak semester 5, bli sebenarnya berkesempatan mengulang mata kuliah tersebut, namun lagi-lagi tidak bli ambil. Pada waktu itu, alasannya adalah karena mata kuliah yang harus bli ulang itu jadwalnya berbenturan dengan mata kuliah utama. Jadi mau tidak mau bli harus memilih mengambil mata kuliah utama dan merelakan lagi kesempatan mengulang. Sampailah akhirnya bli di semester 7.
Pada tahap ini, bli punya kesempatan lagi untuk mengulang mata kulisah Studio Estetika Bentuk. Tapi ada satu dilema. Bli tidak punya jumlah SKS yang cukup untuk menambahkan mata kulish Studio Estetika Bentuk tersebut. Kenapa? Karena pada semester 6, bli lagi-lagi mengalami tidak lulus mata kuliah, yaitu mata kuliah Kerja Praktek. Hal ini membuat jumlah SKS yang bisa bli ambil jadi dikurangi. Akhirnya di semester 7 ini bli terpaksa mengorbankan mata kuliah Seminar, atau yang populer dengan sebutan Skripsi. Pada titik ini bli sudah secara resmi tidak dapat lulus tepat waktu. Dan hal inilah yang membuat hati bli terguncang. Setiap teman yang mengetahui bli tidak mengambil Skripsi pasti kaget.
Sebenarnya banyak kejadian kompleks yang membuat hal itu bisa terjadi. Sampai pada postingan ini bli tulis, sebenarnya bli ragu mengakuinya, tapi sepertinya bli tidak begitu meminati jurusan arsitektur ini. Tapi bli tidak bisa memastikannya ya, karena kejadiannya sangat kompleks, melalui waktu bertahun-tahun. Mungkin juga pernyataan itu muncul karena keadaan psikologi bli yang sedang tidak baik-baik saja saat ini. Bli sering kali mengingat kembali, alasan bli akhirnya bisa masuk jurusan ini adalah karena saram dari ibu. Tentu bli sama sekali tidak menyalahkan ibunya bli, karena seorang ibu tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Jika akhirnya harus bermain salah-salahan, pihak yang harus disalahkan adalah diri bli sendiri. Kenapa? Karena bli tidak pernah mengevaluasi diri sebelum memilih jurusan kuliah. Bagi kalian yang membaca postingan ini, dan akan menentukan jurusan kuliah, ingatlah. Memikirkan matang-matang jurusan kuliah itu sangat penting. Itu akan menentukan kehidupan kalian tidak hanya dalam 4 tahun perkuliahan kedepan, namun sisa hidup kalian selanjutnya. Kenapa? Karena ini berhubungan dengan ilmu dan waktu. Kita menuntut ilmu dengan bayaran waktu. Pastikan jurusan yang kalian pilih itu benar-benar yang kalian inginkan dan butuhkan.
Tapi ada juga orang yang bisa menjalani kuliah, meskipun itu bukan jurusan yang dia pilih. Orang seperti itu pasti ada, saya yakin 100%, dan dia pasti orang yang berhati baja dengan komitmen yang tinggi. Tapi sayangnya bli tidak persis seperti itu. Sampai saat postingan ini ditulis bli juga tidak mengerti kenapa bli tidak pernah secara tulus mencintai jurusan arsitektur ini. Perlu diakui, bahwa kuliah di jurusan arsitektur itu memerlukan komitmen yang sangat tinggi dan tidak boleh setengah-setengah. Kalau setengah-setengah akan berakhir seperti bli saat ini. Kuliah sampai 6 tahun dan tanpa status yang jelas.
Bli berharap adik-adik bli yang saat ini sedang bersekolah dan kuliah tidak pernah merasakan terlambat lulus kuliah. Karena rasanya sangat tidak enak. Kalian juga jangan sampai mengalami telat lulus kuliah. Kalaupun kalian terlanjur ada di fase itu, jalanilah dengan iklhas. Kalau kalian bersedih, cobalah menulis seperti bli ini. Orang tua bli, terutama ibu hampir setiap hari menangis, menangis karena bli. Orang tua bli sangat takut bli tidak lulus. Bli tetap berusaha meyakinkan bahwa bli akan lulus, namun apa yang bli miliki saat ini belum dapat meyakinkan orang tua dengan pasti. Karena itu bli mengatakan status bli saat ini masih tidak jelas. Dulu waktu bli masih SMK, bli sering melihat meme di media sosial, tentang mahasiswa yang tidak ingin apa-apa kecuali satu, hanya ingin lulus. Bli kembali mengatakan, bli tidak pernah bisa membayangkan eksistensi mahasiswa seperti itu. Tapi nyatanya, sekarang bli yang tidak menginginkan apa-apa, kecuali satu hal. Yaitu lulus dari kuliah. Atau kalau ada yang memberi bonus satu keinginan lagi. Bli ingin lulus dari kuliah dan ingin melihat orang tua bli berhenti menangis.
Terimakasih bagi kalian yang telah bertahan membaca cerita bli yang sangat panjang ini. Intinya sekarang bli sedang berusaha menyelesaikan apa yang harus bli selesaikan. Dan bli ingin sekali update cerita di postingan ini dengan cerita yang berakhir bahagia. Di mana akhirnya bli lulus kuliah dan bli bersama keluarga kembali merakasan kebahagian di dunia yang fana ini. Sampai jumpa di cerita bli yang lainnya ya.

Jika ingin, kalian bisa menuliskan komentar kalian pada kolom komentar. Terimakasih
BalasHapus