Hobi Bli #1 - Bibbidi-Bobbidi-Boo!! "Magic Hour", Single Original Terbaru JKT48 yang Diselimuti Mantra Pandora

 

Bibbidi-Bobbidi-Boo!! "Magic Hour", Single Original Terbaru JKT48 yang Diselimuti Mantra Pandora
Ilustrasi ini dibuat melalui www.freepik.com
 

Hai! Selamat datang di blog ini. Senang sekali rasanya, pada postingan ini bli akan membahas sesuatu yang spesial. Berbeda dengan postingan-postingan bli sebelumnya, pada postingan ini, bli akan menulis tentang ulasan lagu. Lagu yang akan bli ulas pada kesempatan ini adalah single original ketiga dari JKT48 yang berjudul "Magic Hour". Sebuah karya lagu yang luar biasa dari grup idola kesayang masyarakat Indonesia.

"Magic Hour" adalah single original ketiga dari JKT48, setelah sebelumnya mereka merilis "Rapsodi" (2020), dan "Flying High" (2022). JKT48, bersama grup-grup 48 lainnya yang tersebar di beberapa negara, umumnya hanya membawakan lagu-lagu AKB48, yang didaur ulang ke dalam bahasanya masing-masing. 

Maka dari itu, kehadiran single "Magic Hour" ini terasa kian istimewa, karena ini adalah single original dari JKT48. Segala yang original selalu terasa istimewa. Perilisan single ini pada tanggal 10 Mei 2024 tentu mendapatkan antusiasme dan apresiasi lebih dari pada penggemar, seperti halnya ketika perilisan dua single original JKT48 sebelumnya.

Di samping merilis single-nya, JKT48 juga mendapingi single ini dengan merilis 3 film pendek. Ketiga film pendek ini membawakan kisah mengenai latar belakang cerita yang menjadi tema dari lagu ini. Tentu pemeran dari seri film pendek tersebut adalah member-member JKT48 itu sendiri. Seperti biasa, dalam pembuatan proyek single, music video, atau perfomance video, JKT48 selalu melakukan pemilihan terhadap member-member yang akan membawakannya, atau istilah populernya disebut sebagai member "Senbatsu"

Adapun member senbatsu yang terpilih untuk membawakan single "Magic Hour" ini antara lain, Azizi Azadel (sebagai Chloe), Marsha Lenathe (sebagai Luna), Feni Fitriyanti (Sebagai Layla), Shania Gracia (sebagai Abigail), Gita Sekar Andarini (sebagai Alice), Angelina Christy (sebagai Clara), Freya Jayawardana (sebagai Charlotte), Jessica Chandra (sebagai Maisie), Mutiara Azzahra (sebagai Annie), Fiony Alveria Tantri (sebagai Sofia), Reva Fidela (sebagai Lexi), dan Kathrina Irene (sebagai Emilia).

Postingan ini akan menjadi panjang. Untuk melakukan ulasan ini, bli akan membagi pembahasan ini menjadi beberapa sub topik. Adapun sub topik itu telah bli rangkum dalam daftar isi di bawah ini. Baik, berikut ini adalah pembahasan panjang bli terhadap single original ketiga JKT48, yang berjudul "Magic Hour".

Daftar isi :

  1. Pada Awalnya
  2. Ulasan Seri Film Pendek
  3. Ulasan Single Original "Magic Hour"
  4. Lalu Apa Saja yang Harus Dibenahi?
  5. Kesimpulan 

Pada Awalnya

Pada bagian ini, akan dipaparkan alur cerita dari seri film pendeknya. Jika teman-teman ingin tahu mengenai alurnya, teman-teman bisa melanjutkan membaca. Namun jika teman-teman sudah mengetahui alurnya, atau memang ingin melompat ke pembahasan selanjutnya juga tidak apa-apa. Alur cerita ini tidak akan mempengaruhi pembahasan-pembahasan bli berikutnya. 

Baik bagi teman-teman yang ingin melanjutkan, berikut adalah alur cerita dari seri film pendek single original "Magic Hour".

-000-

Di suatu sekolah sihir, terdapat sebuah buku sihir kuno yang bernama buku Pandora. Keberadaan buku ini cukup misterius. Siswi-siswi pada umumnya, menganggap keberadaan buku ini hanya sebuah konspirasi. Tapi beberapa siswi lainnya, terutama yang tergabung dalam dewan komite, telah menyadari keberadaan buku ini. 

Tidak seperti buku sihir pada umumnya, buku Pandora ini termasuk buku terlarang. Menurut konspirasi yang beredar, buku ini menyimpan banyak informasi rahasia. Buku ini disinyalir berisi tulisan mengenai cerita-cerita kelam sekolah. Terdapat pula tulisan yang berkaitan dengan teknik sihir, seperti cara-cara melipatgandakan kekuatan sihir. 

Namun, di samping segala konspirasi yang beredar terkait buku ini, ada satu fakta yang tak dapat dirubah. Mantra Pandora, yang terdapat dalam buku ini, adalah penyebab tragedi yang menghancurkan sekolah sekitar lima dekade lalu. 

Karena keberadaannya yang dianggap membahayakan, buku ini kemudian disegel menggunakan mantra rahasia. Sayangnya, buku terlarang yang telah tersegel selama hampir lima dekade itu kini dilaporkan hilang. Buku itu ternyata dicuri oleh salah seorang siswi. Seorang siswi yang ditinggalkan teman-temannya, dan hanya memiliki sedikit teman di sekolah. 

Siswi itu berhasil mencuri buku terlarang itu, sayangnya ia tidak dapat mengendalikan kekuatan-kekuatan jahat di dalamnya. Kekuatan jahat yang dalam mantra Pandora merasuk ke dalam jiwa siswi itu dan memengaruhinya. Setelah dewan komite dan siswi-siswi lainnya berhasil mengungkapnya sebagai pelaku pencurian, siswi pencuri yang telah ada dalam pengaruh penuh mantra Pandora itu pun melakukan perlawanan. 

Ia berlari ke luar dan kemudian dikejar oleh para siswi. Pertempuranpun terjadi di suatu hutan dekat sekolah. Raksasa yang merupakan manifestasi dari mantra Pandora itu kemudian muncul, dengan tubuh siswi pencuri itu sebagai medianya. Ia berwujud menyerupai monster beruang yang mengeluarkan kekuatan sihir merah dari cakupan tangannya. Para siswi menyatukan kekuatan untuk mengalahkan raksasa itu, dan yang terpenting adalah, untuk bisa menyelamatkan teman mereka yang berada di dalam tubuh monster. 

Beberapa siswi berlari dengan gesit sambil melancarkan serangan. Beberapa siswi lainnya menyerang dari udara sambil mengendarai sapu terbang. Sang sahabat dari siswi pencuri itu kemudian melancarkan serangan terakhirnya, siswi lainnya yang melihat hal itu kemudian saling menyatukan kekuatan mereka pada serangan itu. Lahirlah serangan gabungan yang sangat hebat, dan akhirnya berhasil menumbangkan raksasa itu. 

Siswi pencuri itu keluar dari tubuh raksasa, dan jatuh ke dalam pelukan sahabatnya. Beberapa saat kemudian, siswi itupun siuman, disertai perasaan lega dan bahagia dari siswi lainnya. Pada akhirnya ia menyadari bahwa semua siswi di sekolah peduli kepadanya. Di akhir, seorang siswi memberikannya makanan kesukannya, yaitu sebatang coklat, untuk merayakan kemenangan yang berharga ini. 

-000-

Ulasan Seri Film Pendek 

Nah, itulah tadi alur cerita dari film pendek yang menyertai perilisan single original terbaru dari JKT48, yang berjudul "Magic Hour". Film pendek ini terdiri dari 3 seri, yang masing-masing berdurasi sekitar 4-8 menit. 

Adapun seri-seri film pendek itu adalah "The Daydream" yang berisi pengenalan awal dari keberadaan buku terlarang dan investigasi kasus pencurian oleh dewan komite, "The Midnight Thieves" yang menguak aspek-aspek pencurian hingga ditetapkannya pelaku, dan "The New Dawn", yang memperlihatkan kemunculan wujud asli yang bersemayam dalam buku terlarang hingga pecahnya pertarungan terakhir. 

Cerita yang dihadirkan dalam film pendek ini menurut bli sangat bagus dan berbobot, untuk mengantarkan perilisan sebuah single original berjudul "Magic Hour". Sebuah metode perilisan single yang luar biasa dan sangat layak untuk diapresiasi. 

Terkait dengan film pendek ini, ada empat aspek yang ingin bli kritik. Yang pertama terkait dengan tata suara. Pada beberapa bagian, volume suara pemeran terdengar tidak merata. Apakah itu memang karena tata suaranya, ataukah artikulasi, ataukah memang pemerannya yang belum terampil mengatur tempo dalam berdialog. Yang jelas, volume suaranya terdengar belum merata. 

Yang kedua terkait dengan artikulasi dan tempo. Artikulasi adalah kemampuan mengucapka kalimat dialog dengan jelas, sementara tempo adalah pengendalian cepat dan lambatnya kita dalam berdialog. Aspek ini perlu ditingkatkan lagi kedepannya, jika JKT48 merencanakan untuk membuat proyek film lagi. Banyak dialog yang tidak terdengar jelas pengucapannya, ada yang pengucapannya terlalu cepat, dan adapula yang volume suaranya terlalu kecil. Penontonpun harus me-replay beberapa kali untuk dapat mengerti apa yang diucapkan. 

Aspek yang ketiga, yang mungkin terdengar klise adalah akting. Sama halnya dengan aspek artikulasi dan tempo, aspek akting ini perlu untuk terus diasah. Aspek ini membawa peranan yang sangat penting dalam proyek film. Apabila pemeran nyaman dalam ber-akting, penontonpun juga akan nyaman menikmati adegan-adegannya. Aspek akting ini, menentukan keseluruhan aspek di dalam film tersebut. 

Dan aspek terkahir, yaitu yang keempat adalah aspek penguatan tokoh. Jujur saja, posisi tokoh lain, selain tokoh-tokoh utama masih terasa lemah. Hingga akhir seri ketiga, bli sebagai penonton masih belum bisa menghafal nama-nama tokohnya, selain tokoh-tokoh mayor seperti, Luna, Chloe, dan Layla. 

Kebanyakan tokoh lain perlu mendapat sorotan-sorotan yang lebih yang pas, sehingga membuat penonton dapat mengingat nama mereka, tanpa perlu melihat cast-nya lagi berulang-ulang. Terlebih lagi ini adalah film pendek, penguatan setiap tokoh menjadi lebih menantang karena waktu yang terbatas. 

Tokoh-tokoh seperti Alice, Maisie, dan Lexi menurut bli adalah tokoh yang paling lemah posisinya. Di mana begitu berakhirnya seri, nama-nama tokoh mereka seperti terlupakan.

Ulasan Single Original "Magic Hour" 

Pembahasan berikutnya, dilanjutkan dengan ulasan lagu. Ini adalah ulasan pokok dari postingan ini. Baik, ketika bli mendengar lagu ini bli langsung teringat betapa variatifnya JKT48 dalam membuat single original. 

Sejauh ini, JKT48 telah merilis 3 single original, dan ketiganya dibawakan dengan jenis musik yang berbeda. Pada single "Rapsodi" (2020) JKT48 membawakan citra Pop Indonesia yang kuat, pada "Flying High" (2022) JKT48 berinovasi dengan membawakan musik elektronik dengan citra modern, yang sangat terasa nuansa musik Barat-nya, dan pada "Magic Hour" ini, JKT48 kembali berinovasi dengan menyatukan beberapa jenis musik, yaitu musik gothic bernuansa gelap, musik hip-hop, dan J-POP. Dari ketiga single original tersebut, yang paling unik bagi bli adalah single "Magic Hour" ini.

Sebenarnya bli belum bisa menduga, kenapa JKT48 selalu membawakan jenis musik yang berbeda untuk setiap single original-nya. Hal ini menimbulkan pro-kontra di kalangan penggemar. Namun, bli termasuk pada sisi yang pro akan hal ini. Karena menurut sudut pandang bli, ini bisa disebut sebagai inovasi. Setiap single original menjadi memiliki ciri khasnya masing-masing. 

Coba bayangkan apabila JKT48 selalu merilis single original dengan genre J-POP seperti pada umumnya, merilis lagu sebagaimana idol grup Jepang "seharusnya". Pasti JKT48 menjadi tidak memiliki ciri khas terhadap grup 48 lainnya. Karena itu, inovasi ini bagus menurut bli. Terlepas dari hasilnya yang bagus atau tidak, itu lagi-lagi soal selera. Yang terpenting, JKT48 telah berusaha untuk selalu berinovasi. Dan kita harus mengapresiasi hal tersebut. Ingat, menjadi beda lebih baik, daripada menjadi sedikit lebih baik.

Lalu Apa Saja yang Harus Dibenahi?

Kabar baiknya adalah, single "Magic Hour" ini adalah single original kesukaan bli. Sejauh ini, ini adalah single original yang bli paling suka. Single ini memiliki citra progresif. Bagian awal menampilkan citra musik gothic, bagian pertengahan memiliki sedikit unsur hip-hop, dan pada bagian chorus langsung ditembak dengan citra J-POP khas idol grup Jepang. Hadirnya beragam citra musik itu membuat lagu ini sangat "mahal" karena estetikanya yang tinggi. Itulah alasan kenapa bli menyukai lagu ini. 

Namun, hal ini akan menjadi tantangan bagi JKT48 untuk selanjutnya. Setelah membuat single yang berestetika ini, bagaimanakah konsep single original JKT48 selanjutnya? Seperti apa formula lagu yang akan digunakan? Dan apakah JKT48 akan berinovasi dengan jenis musik baru lagi? Menarik untuk disimak suatu saat nanti. Tentu harapannya agar JKT48 dapat membuat suatu proyek yang lebih baik lagi, minimal bisa mempertahankannya.

Ada juga beberapa masukan dari bli. Secara karya lagu, seperti yang bli jelaskan tadi, lagu "Magic Hour" ini adalah lagu yang bagus. Sebuah proyek hebat dari JKT48. Namun, sayangnya menurut bli lagu ini tidak akan mudah diterima di masyarakat. Hal ini dikarenakan banyaknya lagu-lagu bagus lainnya di kancah permusikan Indonesia. Bagi penggemar atau penyuka jejepangan, lagu ini akan dapat diterima, namun secara global di Indonesia, lagu mungkin akan sulit untuk bersaing. 

Berikut ini, bli tuliskan poin-poin yang telah bli nilai dalam lagu ini. Bila ada poin yang positif, harap dipertahankan, dan blia ada poin negatif, mohon untuk dievaluasi kembali dan kemudian dibenahi.

Bahasa

Perlu Dipertahankannya Penggunaan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa yang Dominan. Bli sangat mengapresiasi di mana single "Magic Hour" ini dominan menggunakan bahasa Indonesia. Awalnya bli sempat khawatir, apakah single ini akan mengikuti "Flying High" menggunakan bahasa Inggris? Dilihat dari judulnya yang berbahasa Inggris yaitu "Magic Hour"? Untung saja kekhawatiran itu tidak terjadi.

Begitu lirik pertama terdengar menggunakan bahasa Indonesia, bli langsung lega. Meskipun masih ada bagian-bagian yang menggunakan bahasa Inggris. Hal ini mengingatkan bli dengan ciri khas lagu Jepang. Formula menggunakan bahasa ibu, disisipi bahasa Inggris adalah ciri khas dari lagu-lagu Jepang. Tapi tidak apa-apa, penggunaan bahasa Indonesia, sebagai bahasa dominan pada single original ini adalah langkah pembenahan yang baik. Dan bli sebagai penggemar senang sekali mendengarnya.

Penggunaan bahasa Indonesia pada lagu JKT48 itu sangat penting. Alangkah baiknya, jika memang tidak perlu, tidak usah menggunakan lirik berbahasa Inggris. Bawakan saja semuanya dengan bahasa Indonesia. Bukan berarti bli bermaksud membuat JKT48 tidak ramah terhadap dunia luar, melainkan, untuk dapat bersahabat dengan dunia luar, tidak perlu menggunakan bahasa internasional, yang dalam hal ini adalah bahasa Iggris.

Dengan bahasa Indonesia pun bisa. Kita kenalkan bahasa Indonesia ke dunia luar. Terlebih lagi JKT48 adalah idol grup asal Indonesia, yang membawa nama Indonesia dalam keluarga grup 48. Sudah sepatutnya JKT48 membawa serta identitas dan potensi Indonesia dalam setiap langkahnya. Hal yang paling sederhana adalah melalui bahasa pada lagu. Kita perlihatkan ke dunia luar identitas dan potensi yang kita miliki sebagai orang Indonesia.

Hal yang sama juga dapat diterapkan pada penamaan karakter. Dalam film pendek ini, member JKT48 diberikan nama tokoh yang identik dengan nama orang Eropa, seperti Luna, Chloe, Clara, Charlotte, Abigail, Sofia, Lexie, Maisie, Annie, Layla, Alice, Emilia. Memang sih konsep dari ceritanya identik erat dengan kebudayaan Eropa, yaitu sebuah sekolah sihir, yang muncul di beberapa cerita budaya populer Eropa.

Namun hal tersebut bukanlah sebuah halangan untuk tidak menggunakan nama-nama orang indonesia. Pasti ada cara lain, seperti perevisian konsep cerita misalnya, sehingga memungkinkan penggunaan nama orang Indonesia di dalamnya. JKT48 adalah idol grup yang membawa nama Indonesia. Sudah seharusnya JKT48 membawa lebih banyak lagi citra-citra Indonesia pada setiap proyeknya.

Tema

Tema Lagu Sebaiknya Mengambil Isu-Isu dari Kehidupan Masyarakat Indonesia itu Sendiri. Menurut bli, tema pada lagu "Magic Hour" ini tidak mencerminkan ke-Indonesiaan sama sekali. Masyarakat umum mungkin tidak terlalu peduli dengan lagu ini. Bagi masyarakat kota Jakarta, dan kota-kota metropolitan lain, yang telah banyak disisipi kebudayaan Barat dan Asia Timur, lagu ini masih dapat diterima. Tapi bagaimana dengan daerah-daerah lainnya? Terlebih lagi, lagu "Magic Hour" ini tidak memiliki tema yang berhubungan dengan persoalan masyarakat. Semakin membuat lagu ini menjadi lagu yang hanya didengarkan saja, tanpa dicoba untuk dkulik lebih jauh.

Agar lebih terhubung dengan masyarakat, JKT48 dapat mencoba untuk mengambil persoalan-persoalan di masyarakat sebagai tema lagunya. Ada banyak sekali tema yang dapat diambil, misalnya dalam kehidupan sosial.

Tema yang dapat diambil misalnya, mengenai kesenjangan sosial di masyarakat, mengenai perjuangan seseorang yang berusaha mencari teman, atau seseorang yang berjuang mendapatkan pengakuan di masyarakat, dan lain sebagainya. Tema-tema tersebut sangat dekat dengan masyarakat, dan JKT48 memiliki peluang yang lebar untuk mengangkatnya menjadi sebuah tema lagu. Belum lagi tema lingkungan, isu yang kini perlu mendapat perhatian lebih. Permasalahan gobalisasi, penghijauan, dan juga isu-isu sampah, terutama sampah plastik dapat dijadikan sebuah tema lagu. 

Hal ini mungkin terdengar aneh, jika sebuah idol grup membuat lagu bertema sosial dan lingkungan. Tapi hal ini patut dicoba dan tidak ada yang salah dengan hal itu. JKT48 dapat mempelopori dirinya sebagai idol grup yang peduli lingkungan. Dengan menyuarakan isu-isu terjadi langsung di masyarakat, JKT48 akan menjadi idol grup yang benar-benar dimiliki seluruh masyarakat Indonesia.

Kesimpulan

Single "Magic Hour" adalah sebuah proyek yang hebat. Salah satu proyek single terbaik yang pernah dibuat oleh JKT48. Melalui single ini, JKT48 menunjukan pembenahan yang baik terhadap kekurangan single-single original sebelumnya. 

Beberapa kekurangan dalam proyek single ini terkait dengan film pendeknya yaitu permasalahan tata suara, artikulasi dan intonasi, tempo dialog, dan penguatan karakternya. Sementara untuk produksi lagu, hal-hal yang perlu ditingkatkan lagi terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia untuk single-single original berikutnya, dan penggunaan persoalan masyarakat Indonesia sebagai tema dari lagu. 

.

.

.


Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Jadi itulah ulasan bli terhadap lagu "Magic Hour". Semoga ulasan ini bermanfaat bagi para pembaca. Nantikan lagi tulisan-tulisan bli berikutnya, dan sampai jumpa lagi di postingan bli selanjutnya.

Komentar