Cerita Bli #5 - Menggenggam Satu, Melepas Satu yang Lainnya

 

Menggenggam Satu, Melepas Satu yang Lainnya
Menggenggam Satu, Melepas Satu yang Lainnya

Bli benar-benar kehabisan energi dalam melanjutkan pendidikan. Bli tidak tahu, apakah ini karena jenuh atau sebab lainnya. Keterlambatan bli dalam menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya ini benar-benar merusak kehidupan bli. Semoga saja kehidupan bli menjadi lebih baik setelah bli lulus nanti. Prestasi akademik bli juga menurun drastis. Berdasarkan tren IPS dan IPK bli, grafik prestasi akademik bli kian menurun setiap semester demi semesternya. Hal ini lumayan menjadi beban pikiran bagi bli. Perjalanan kuliah ini terasa sangat berat bagi bli. Kehidupan kuliah yang menyenangkan sudah tidak mungkin lagi terwujud.

Tapi bagaimanapun juga, perjalanan ini harus bli tuntaskan. Namun jalan agar bli dapat menuntaskan perjalanan ini masih berat. Bli terlambat menyadari jika dunia perkuliahan itu penuh dengan ikatan sistem. Dan meraih gelar sarjana itu hanya bagi orang yang benar-benar pantas. Keterlambatan bli menyadari hal ini berakibat sangat buruk bagi bli.

Masa-masa ini adalah waktu yang sulit. Saat ini bli sudah menginjak usia 24 tahun. Di usia ini idealnya seseorang, terutama lelaki harusnya sudah memiliki arah dan tujuan yang jelas. Namun bli masih belum berada di titik itu. Bli masih mendekam dalam lingkaran sistem pendidikan, yang tidak jelas bagaimana bli akan mengakirinya. Tidak jelas bagaimana skenario bli akan mengakirinya. Di usia ini, bli jujur masih bingung bagaimana akan melanjutkan kehidupan. Karena ada banyak sekali hal yang belum bli ketahui di dunia luar sana.

Seperti Ikan Koi dalam Kolam

Kehidupan bli sejauh ini bagaikan ikan Koi yang hidup di kolam. Bli mengenyam pendidikan di SMK dan mengambil jurusan yang berkaitan dengan konstruksi bangunan. Setelah tamat, bli melanjutkan pendidikan di program studi arsitektur. Kurang lebih total sudah 9 tahun bli mengenyam pendidikan dalam bidang arsitektur. Selama mempelajari bidang arsitektur ini, bli merasa tidak pernah benar-benar mencintainya. Hal itulah yang membuat bli melakukan segalanya setengah hati. Ada kalanya bli bersemangat dalam mengenyam pendidikan. Ada masa-masa di mana bli menggapai prestasi yang bagus. Namun hal itu kini tidak berarti apa-apa. Ada hal-hal yang membuat bli tidak bisa mencintai program studi ini sepenuh hati. Dan pada titik ini, bli benar-benar tidak ingin melanjutkan karir di bidang ini. Meskipun karir ini sangat menjanjikan. Namun pada saat ini, bli akan mengatakan tidak. Bli berkomitmen akan melanjutkan karir di bidang lain. Bli ingin menjelajahi hal yang baru. Bli yakin ada hal lain di luar sana yang bisa bli lakukan, selain arsitektur ini. Pasti ada hal yang lain. Bukan hanya bidang ini saja. Dalam bidang arsitektur ini bli sangat sulit berkembang. Jika bli berkembang, harusnya bli sudah berbahagia sekarang, dengan rencana karir yang matang. Tapi nyatanya hal itu belum terjadi juga. Dan faktanya, selama 9 tahun ini, bli menjadi manusia yang tidak berkembang. Hal itu karena bli melakukan semua ini tanpa arah tujuan yang jelas. Bli menjalani pendidikan ini dengan tidak sambil membuat rencana karir yang jelas. Ini bagaikan kehidupan ikan koi dalam kolam, yang setiap waktunya hanya berputar-putar saja. Ikan itu menjalani hidup seperti biasa, tapi dia hanya berada di tempat itu saja. Bila waktunya dia makan, dia akan makan, bila waktunya istirahat dia akan beristirahat, dan begitu seterusnya.

Pilihan Rencana Karir

Sepanjang waktu bli selalu memikirkan tentang bagaimana bli akan menjalani hidup ini. Ini bli sebut sebagai rencana karir. Dan rencana karir yang bli pikirkan selama ini sangat berbeda dengan kenyataan yang bli jalani saat ini. Bli hampir tidak pernah memikirkan arsitektur sebagai rencana karir bli. Pernah sesekali, itupun hanya bertahan sesaat. Sejauh ini, bli akan menerima arsitektur sebagai rencana karir bli jika bli sudah menyerah dengan cita-cita bli. Bila bli merasa tidak mungkin untuk meraih cita-cita bli, maka bli akan menerima arsitektur sebagai rencana karir selanjutnya. Ketika bli memutuskan arsitektur sebagai rencana karir bli selanjutnya, bli akan merasa tenang dan bahagia. Seolah seluruh beban pikiran yang bli tanggung selama ini telah hilang. Bagaimana mungkin perasaan senang itu tidak muncul? Karir yang sesuai dengan jurusan, prospek karir yang menjanjikan, prospek kehidupan yang terjamin, kebanggan sebagai seorang arsitek, hal-hal itu tentu membuat setiap orang akan bahagia. Namun perasaan senang itu hanya timbul seasaat. Karena kenyataannya bukan itu yang benar-benar ingin bli lakukan. Ini terdengar sangat idealis. Seseorang membuang semua prospek bagus yang menanti, demi cita-cita yang idealis. Bli sadar, perasaan senang dan berbahagia itu bisa muncul karena diri bli merasa sudah aman. Karena, ketika bli memikirkan rencana-rencana karir bli, mendadak semua menjadi kebalikan dari prospek kehidupan yang tadi bli sebutkan. Dan bli putuskan, bahwa bli akan meninggalkan bidang arsitektur ini selepas lulus nanti. Karena di bidang ini bli sangat tidak berkembang. Dan bli ingin mencoba bidang lainnya. Barangkali bli bisa berkembang di bidang itu. Bli akan senang hati melakukannya, karena bli adalah orang yang suka mempelajari hal baru.

Pilihan Rencana Karir yang Ini, dan Itu, dan di Sana lagi

Jujur saja, bli sangat bersuyukur. Bli sangat bersyukur terhadap segala hal yang telah bli dapatkan dalam hidup ini. Tidak banyak orang yang dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Sementara pada bli, pekerjaan itu datang dengan sendirinya. Mengenyam pendidikan di bidang arsitektur benar-benar memudahkan seseorang dalam mendapatkan pekerjaan, yang mana pekerjaan itu tentu menghasilkan uang. Hal inilah yang bli alami. Sejauh ini, bli telah berhadil mengumpulkan uang dengan mengambil beberapa pekerjaan, ada pekerjaan dari kantor desa, adapula pekekrjaan secara freelance. Jumlah uang itu memang tidak banyak, tapi bagi bli sebagai seorang mahasiswa dan pemula, jumlah itu lumayan. Bahkan hingga kini uang itu masih bli gunakan untuk membeli keperluan sehari-hari seperti pulsa dan kuota internet.

Bli tidak bisa menyangkal bahwa bidang arsitektur ini telah memberikan bli nafas untuk hidup. Bahkan setelah bli tamat nanti, ada dua pekerjaan yang menanti bli. Tapi bli tegaskan, itu bukan karena kemampuan atau skill bli ya, melainkan itu disebabkan karena koneksi. Tuhan memberikan bli koneksi-koneksi yang sedemikian rupa, sehingga memudahkan bli dalam menerima panggilan pekerjaan ya. Bagaimana tidak mendapatkan koneksi, ayah bli adalah seorang arsitek juga pemborong. Untuk  persiapan setelah bli lulus nanti, ayah bli sudah menyiapkan posisi untuk bli di proyek yang sedang berjalan. Ayah bli saat ini sedang mengerjakan suatu proyek, dan bli dengan mudahnya bisa langsung bergabung di sana. Pintu terbuka begitu lebar. Satu pekekrjaan lagi datang dari koneksi ibu bli. Teman ibu bli adalah seorang yang bekerja dalam perusahaan pengembangan (developer). Selepas bli lulus nanti, beliau siap mengajak bli dalam perusahaannya. Dan ini lagi-lagi memudahkan bli dalam menapaki dunia karir. Oh iya, ada satu lagi. Kakak sepupu bli di luar kota juga memerlukan tenaga arsitek. Dan masih banyak lagi, banyak sekali pilihan yang bisa bli jelajahi jika bli tetap berjalan di jalur ini.

Tapi masalahnya, bli merasa tidak nyaman di jalur ini, dalam hal ini adalah arsitektur. Hal ini bisa dilihat dari kondisi bli yang terluntang lantung di kampus pada saat ini. Meskipun memiliki prospek kerja yang luas, bli tetap memutuskan untuk berganti jalur. Selepas bli lulus, bli ingin melihat dunia seluas-luasnya, bli ingin melihat setiap sudut dunia ini. Bli selama ini telah mendekam dalam kamar. Terkurung dalam lingkaran semu yang tidak ada ujungnya. Bli tahu, akan ada saatnya nanti bli akan mengatakan isi hati bli ini kepada kedua orang tua bli. Dan mereka pasti akan sedih. Lagi-lagi bli akan membuat orang tua bli bersedih lagi. Hal ini tidak akan mudah. Dan masa-masa itu pasti akan terjadi dan kemudian terlewati. Bli tidak tahu bagaimana akan mengatakannya kepada orang tua. Ada banyak sekali kerugian, terutama dari waktu dan biaya yang selama ini orang tua bli berikan untuk pendidikan bli. Bli bahkan belum tahu bagaimana untuk memulainya. Prospek kehidupannya juga terkenal tidak bagus, dan ini seperti pertaruhan yang sangat besar. Bli mungkin bisa saja hancur karena pilihan ini. Dan jika bli menjalaninya sepenuh hati, bli bisa juga akan berhadil. Bli harus berani memilih, demi cita-cita bli yang sesungguhnya. Cita-cita yang selama ini bli pikirkan dan dambakan. Bli akan maju dengan menggenggam pilihan pada cita-cita bli ini.

Komentar

  1. Kalian juga bisa menuliskan komentar terkait postingan ini. Silakan menggunakan kolom komentar ya. Terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar