Cerita Bli #7 - [Visual] Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung

Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung


Hai! Tabik! Selamat datang kembali di blog ini. Bagaimana kabar kalian? Apakah hari ini berjalan dengan baik? Semoga semuanya baik-baik saja ya. Semoga kita dimudahkan dalam menyelesaikan setiap masalah. Cepat atau lambat, kita telah menyadari kalau hidup ini memang berat. Tapi ingatlah, setiap kesulitan yang kita alami akan akan terlewati, kalau kita berani mengahadapi kesulitan tersebut. 

Pada postingan kali inii akan menceritakan pengalaman bli saat pertama kali mengunjungi tempat makan "Mie Gacoan" cabang Dalung. Mie Gacoan cabang Dalung ini berlokasi di Jl. Raya Padang Luwih, No. 145, Dalung. Selain menceritakan pengalaman, bli juga akan sekalian mengulas tempatnya. 

Pada Awalnya

Dari akhir Mei hingga pertengahan Juni 2024, bli sering datang ke rumah teman bli yang berlokasi di Dalung. Bli datang ke rumahnya untuk mengerjakan revisi Tugas Akhir kampus. Bli merasa kurang termotivasi kalau mengerjakannya sendiri di rumah. Dan datang ke rumah teman adalah salah satu jalan untuk meningkatkan motivasi.

Sebelumnya, perkenalkan nama teman bli itu adalah Agung Purnadi. Nama panggilannya Agung. Kami mulai bertemu dan saling mengenal sejak kuliah. Bahkan, seingat bli, dia adalah teman pertama yang bli kenal di kuliah. Selama 6 tahun kami berteman, bli menyadari kalau dia orang yang suka bersantap. Dia sering membawa banyak roti dan minuman ke dalam kelas. Di saat dia tidak membawa bekal makanan, dia akan membelinya di kantin. Dan uniknya, dia sangat ahli soal makanan dan merek-merek makanan. 

Misalnya bli bertanya,
"Gung, kalau mau beli pizza, enaknya di mana ya?"
Agung pun dengan lugasnya menjawab, 
"Ohh.. kalo mu mau yang deket sini, beli aja di x, tapi agak mahal. Kalau mu mau yang murahan beli yang di xx , isiannya ada ini, ini, dan ini. Kalo beli yang ini, dapet bonus yang itu...."

Begitulah kira-kira Agung menjelaskan rekomendasi tempatnya. Teman-teman tahu tidak kenapa Agung sering kali menegaskan, kalo suatu makanan itu ternyata agak mahal? Itu karena Agung sudah paham, kalau jatah uang makan bli per-makan hanya Rp. 10.000-an hahaha. Iya, bli termasuk orang yang tidak berani mengeluarkan banyak uang untuk makan. Masih ada keperluan lainnya yang juga harus bli pikirkan. Dan Agung-pun telah menyadari hal itu. 

Hal itu juga terjadi saat bli mengerjakan revisi Tugas Akhir di rumahnya, dan kami berdua mulai lapar. Itu adalah hari ke-3 bli ke rumahnya. Kebetulan hari itu bli tidak membawa bekal makanan. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan kami berdua belum makan siang. Kami berunding untuk menentukan menu makan siang. Karena jatah uang makan bli hanya Rp. 10.000-an, bli pun mengajukan untuk makan di salah satu gerai makan cepat saji. Paket makanan di sana murah, bahkan sudah termasuk dengan minumannya. Kebetulan tempatnya juga sangat dekat dari rumah Agung. 

Setelah berpikir sejenak, Agung-pun setuju. Tapi tidak lama kemudian, bli membatalkannya. Bli baru ingat kalau bli sudah terlalu sering makan di sana, dan minuman pokok dari gerai itu adalah es teh. Kalau bli lagi-lagi makan di sana, bisa-bisa bli terkena diabetes. Seperti yang kita tahu, es teh yang manis itu tidak baik diminum setelah memakan nasi. Kandungan karbohidrat pada nasi-pun juga akan berubah menjadi gula ketika dicerna. Hal itu semakin meningkatkan resiko diabetes. Akhirnya, jadilah kami berunding lagi untuk menentukan tempat makan lainnya. 

Kami mencari tempat makan yang murah, dengan pilihan minuman yang lebih fleksibel. Beberapa saat kemudian Agung-pun merekomendasikan Mie Gacoan. Bli kemudian melihat-lihat daftar harganya. Setelah melihat datar harganya yang terjangkau, bli pun langsung setuju. Harga 1 porsi Mie Gacoan ternyata murah, tidak seperti yang bli bayangkan. 

Agung menyarankan agar memesan makanannya menggunakan ojek online saja, agar kami tidak perlu repot keluar. Tapi setelah bli amati lagi, ternyata jika menggunakan jasa ojek online, harganya akan menjadi meningkat. Bli pun menyampaikan ke Agung, kalau bli tidak bisa jika harganya jauh di atas Rp. 10.000-an. Setelah mempertimbangkan hal itu, kamipun sepakat untuk makan langsung di tempat. 

Bli merasa sangat antusias pergi ke kedai Mie Gacoan. Bli jarang sekali bisa memakan mie pedas seperti ini. Biasanya, bli hanya makan mie-mie pedas seperti ini jika dihadiahi oleh seseorang. Bli bahkan tidak pernah makan langsung di tempatnya. Cara memesannya pun bli tidak tahu. Maka dari itu, selain makan siang (sore), hal ini sekaligus menjadi kegiatan darmawisata bagi bli. Kami pun bersiap-siap dan berangkat ke kedai pilihan kami, yaitu Mie Gacoan Dalung. 

Menuju Kedai Mie Gacoan Dalung

Kami berangkat dengan berboncengan. Formasi berboncengan kami hampir selalu sama, yaitu Agung yang mengendarai di depan, dan bli yang duduk di belakang sambil mengawasi google maps. Namun, karena Agung sudah mengetahui lokasi Mie Gacoan Dalung, jadi kami tidak perlu menggunakan google maps

Kawasan tempat Agung tinggal adalah kawasan perumahan. Banyak sekali jalan-jalan kecil dan belokan yang akan ditemui jika menyusuri kawasan perumahan ini. Terlebih lagi banyak area, jalan, dan belokan yang tampak sama. Membuat orang-orang menjadi bingung saat pertama kali melalui perumahan ini. Perjalanan semakin menantang dengan adanya penerapan lajur satu ruas di beberapa segmen jalan. Jika kita salah menggunakan lajur, tentu akan membahayakan diri sendiri dan pegendara lainnya. 

Begitulah kesan bli saat awal-awal datang ke rumah Agung. Di perjalanan menuju Kedai Mie Gacoan Dalung, bli benar-benar tidak ingat jalan-jalan mana saja yang kami lalui. Semuanya tampak sama. Pokoknya bli memercayakan semuanya ke Agung. Hingga sampailah kami di jalan besar, dan terlihatlah kedai Mie Gacoan Dalung itu. Kami pun sampai di lokasi. 

Tibalah di Kedai Mie Gacoan Dalung 

Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Mie Gacoan Dalung 


Kedai Mie Gacoan Dalung ini tepat berada di pinggir Jalan Raya Padang Luwih. Lokasinya sangat strategis di kawasan komersial, bangunan yang berkarakter, serta logonya yang "ngejreng" dengan balutan warna merah muda-biru, membuat kedai Mie Gacoan Dalung ini sangat mudah dikenali. Karena hal itu, di dalam ilmu arsitektur, bisa dikatakan bangunan ini memiliki "titik tangkap" yang sangat kuat. Kuatnya titik tangkap suatu tempat, juga berpengaruh penting terhadap branding tempat tersebut. 

Keadaan Jalan Raya Padang Luwih memang selalu padat setiap sore. Setelah beberapa saat terjebak kemacetan kecil, akhirnya kami berdua berhasil masuk ke area Mie Gacoan Dalung. Kami pun langsung disambut area parkir dari Mie Gacoan Dalung ini. Fasilitas parkirnya cukup luas. Kami bisa leluasa memilih tempat memarkirkan motor. Ketersediaan parkir yang memadai ini juga memberikan pengalaman berkunjung yang baik. Di sekeliling area parkir terpasang pagar besi. Sederhana namun sudah cukup memberikan rasa aman. Tenang saja, juru parkir Mie Gacoan Dalung juga selalu bersiaga di tempat. 

Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Tempat Parkir Mie Gacoan Dalung 


Setelah memarkir dan memeriksa barang-barang di motor, kami pun langsung masuk ke dalam kedai. Entrance /pintu masuk terbagi menjadi 2, yaitu entrance bagi pengunjung yang hendak masuk ke dalam, dan entrance bagi yang hendak memesan terlebih dahulu. 

Bagi yang hendak langsung masuk ke dalam, bisa langsung melalui entrance utama. Namun jika belum memesan, dan hendak memesan terlebih dahulu, dapat melalui rute jalur pemesanan. Jalur ini mengarahkan pengunjung ke meja pesan/kasir. Rute jalur pemesanan ini terhubung langsung dengan entrance utama. Jadi setelah selesai memesan, pengunjung terarahkan ke entrance utama dan dapat masuk ke dalam seperti biasa. Entrance di tempat ini hanya satu, yang sekaligus dijadikan pintu masuk dan keluar. 

Pada saat ini bli dan Agung sudah berada di rute jalur pemesanan untuk memesan terlebih dahulu. Sambil mengantre giliran memesan, bli berunding dengan Agung soal menu apa yang kira-kira akan kami pesan. Agung yang ahli di bidang kuliner dengan cepat menetapkan menu pesanannya. Bli yang tetap berpegang teguh pada teori jatah makan maksimal Rp. 10.000-an, mencoba mencari menu yang sekiranya terjangkau. Akhirnya bli memilih menu Mie Hopimpa level 1 dengan harga Rp. 10.500. Agung memesan Mie Gacoan level 1, juga makanan-makanan pendamping lainnya. 

Pengalaman Selama Berada di Mie Gacoan Dalung 

Setelah selesai memesan dan melakukan pembayaran, kami kemudian diberi perlengkapan makan berupa 2 pasang sumpit, serta 1 alat unik berupa alarm. Bli rasa alat ini telah digunakan di seluruh kedai Mie Gacoan lainnya. Teman-teman yang sering makan di kedai Mie Gacoan pasti pernah melihat alat ini. Bentuknya bundar, berwarna merah, dan akan berbunyi jika pesanan kita sudah siap diambil. 

Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Alat Unik Berupa Alarm 


Alat itu serta perlengkapan makan lainnya pun kami bawa sambil mencari tempat duduk. Keadaan Mie Gacoan Dalung pada sore itu ternyata tidak terlalu ramai. Mungkin karena masih jam kerja. Pada jam pulang kerja, di atas jam 5 sore mungkin tempat ini akan mulai ramai lagi. Bli dan Agung memilih tempat duduk di baris paling belakang. Tempat duduk pilihan kami cukup strategis, dekat dengan wastafel, toilet, dan tempat tisu. Sepanjang yang bli amati, tempat tisu di Mie Gacoan Dalung ini tidak diletakan di setiap meja, tetapi diletakan di satu titik saja, yaitu di dekat toilet. Hal ini sepertinya kurang efektif ya. Bli melihat pengunjung-pengunjung yang duduk di barisan depan harus berjalan cukup jauh ke belakang hanya untuk mengambil tisu. Namun di samping sedikit kekurangan itu, tempat ini tetap nyaman. 

Area makan di Mie Gacoan Dalung ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu area makan reguler, area makan bebas rokok, dan area makan di halaman. Kita bebas bisa memilih tempat duduk di area mana saja. Bli dan Agung sendiri memilih di area makan reguler. Ada pula fasilitas pendukung lainnya, yaitu area live music. Area ini tidak besar, mungkin hanya sekitar 10-12 m2. Namun sudah cukup untuk mewadahi band dengan 4 anggota. Live music ini hanya diadakan di waktu-waktu tertentu. Kalau tidak salah, hanya diadakan di malam Minggu saja.

Suasana yang dihadirkan di dalam Mie Gacoan Dalung ini sangat asri. Rasanya sperti makan di halaman rumah sendiri. Tapi dari yang bli perhatikan, konsep desain seperti ini juga diterapkan di kedai Mie Gacoan lainnya. Menunjukkan bahwa konsep desain bernuansa alami ini adalah ciri khas dari kedai Mie Gacoan. 

Sedang asyiknya menikmati suasana, tiba-tiba alat alarm unik berwarna merah itu berbunyi. Hal ini menandakan pesanan kami berdua sudah siap diambil. Kami pun ke depan untuk mengambil pesanan kami, tidak lupa juga membawa alat alarm itu untuk dikembalikan. Pesanan kami berada pada sebuah nampan. Setelah diverifikasi, kami pun dapat mengambil pesanan kami untuk dibawa ke tempat duduk. 

Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Area Makan Reguler


Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Area Makan Bebas Rokok 


Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Area Makan di Halaman


Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Area Live Music 


Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Toilet 


Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
Langit-Langit Area Makan Reguler 


Pengalaman Pertama Kali Makan di Mie Gacoan Dalung
"If I Could See All My Friends Tonight"


Pertama Kali Mencoba Mie Gacoan di Tempatnya. Apa?? Air Minum Ketinggalan!?

Makanan kami pun sudah ada di hadapan kami, dan siap untuk disantap. Jika dihitung-hitung, waktu penyajiannya sekitar 30 menit. Bli sudah tidak sabar untuk memakannya, karena memang jarang sekali bisa memakan mie seperti ini. Sebelum mulai menyantap menu utama, bli biasa untuk meminum air putih terlebih dahulu. Bli pun hendak mengambil tas tenteng tempat bli biasa menaruh botol air. Bli mencari tas itu di sekitar bli, mulai dari sisi bawah bagian kanan, kemudian bagian kiri, di belakang, tapi ternyata tidak ada juga. Bli pun langsung sadar telah meninggalkan tas itu di rumah Agung. Wah.. bagaimana ini? Masa memakan mie pedas tanpa air minum??

Agung menyarankan bli untuk memesan minum saja. Tapi bli menolaknya, sayang uangnya, apalagi bli sebenarnya sudah membawa air. Lagipula rumahnya Agung juga dekat dari sini, jadi tidak terlalu masalah bagi bli. Agung juga menawarkan minumannya, tapi bli merasa tidak enak kalau harus memintanya. Dan setelah bli meyakinkan kalau bli akan baik-baik saja, kami pun akhirnya mulai makan. 

Awalnya bli berpikir kalau memakan mie seperti ini tidak akan mengenyangkan. Namun ternyata Mie Gacoan ini lumayan mengisi perut. Selain karena porsinya yang cukup banyak, mie Gacoan ini juga dilengkapi dengan pangsit dan 2 buah siomai ayam. Porsi yang cukup ideal untuk mengisi perut, tidak kurang juga tidak lebih. 

Setelah selesai makan, kami pun berdiam sejenak di sana, untuk menikmati akses wifi. Wah...lengkap rasanya fasilitas di Mie Gacoan Dalung ini. Seperti biasa, Agung menggunakan wifi itu untuk bermain game. Dia memang anak game yang memiliki banyak sekali game di ponsel dan laptopnya. Bli menggunakan wifi ini untuk melihat-lihay lini masa YouTube dan Tiktok. Suatu hal yang jarang terjadi jika bli hanya menggunakan data seluler. 

Setelah puas internetan dan makanan tadi terasa sudah masuk sepenuhnya ke dalam perut, kami pun bersiap pulang. Tidak lupa nampan untuk membawa pesanan tadi kami kembalikan ke depan. Yang dibawa hanya nampannya saja, piring, gelas, dan mangkok lainnya ditinggalkan saja di tempat duduk. 

Kegiatan Makan di Mie Gacoan Dalung Sudah Selesai 

Kegiatan makan siang yang dilakukan sore hari itupun sudah selesai. Kami menuju parkir dan bersiap untuk kembali ke rumah Agung. Pengalaman makan pertama kali di kedai Mie Gacoan sangat menarik. Mencoba berkunjung ke tempat-tempat baru memang menyenangkan. Pengalaman itu semakin menyenangkan, karena dilakukan bersama dengan sahabat. Pengalaman bersantap ke Mie Gacoan Dalung menambah referensi bli mengenai tempat makan bagus dengan harga yang terjangkau. Kalau bli berkesempatan untuk datang ke Dalung lagi, bli akan mengajak Agung untuk makan lagi di Mie Gacoan Dalung. 

Komentar