Hobi Bli #2 - Kecintaan Terhadap Musik Adalah Suatu "Kutukan Indah" Yang Menimpa Seseorang

Kecintaan Terhadap Musik Adalah Suatu "Kutukan Indah" Yang Menimpa Seseorang
Musik adalah kesenian yang misterius 

Hai teman-teman, selamat datang kembali di blog ini. Pada postingan ini, bli akan membahas topik yang berkaitan dengan suatu hobi. Ya, sesuai dengan judul postingan ini, topik pembahasan kita di postingan ini adalah tentang dunia musik. Apakah teman-teman adalah penggemar musik? Musik apakah yang menjadi favorit teman-teman? Atau, mungkin teman-teman juga memainkan alat musik? 

Kalau bli pribadi, bli adalah seorang penggemar musik. Bli senang sekali mendengarkan album-album musik, dari berbagai masa, berbagai artis, dan lintas genre. Musik yang bli dengarkan bisa juga lumayan luas, mulai dari musik modern, hingga musik vernakular yang berbasis seni karawitan. Rasanya bahagia sekali ketika mendengarkan album musik. Seolah-olah, bli sedang menikmati separuh jiwa dari musisi itu. 

Tentu tidak berlebihan , jika bli mengatakan bahwa karya musik itu mewakili separuh jiwa dari musisinya. Bagaimanapun juga, sang musisi telah mencurahkan segenap olah rasanya, citranya, daya pikrinya, jiwanya, dan gairahnya, saat menciptakan karya-karya musiknya. Maka dari itu, sebuah karya musik sudah seperti "jiwa" sang musisi itu sendiri. Sebuah karya yang sakral dan Agung. Apakah teman-teman juga sependapat?

Bli banyak sekali mendengarkan album-album musik. Meskipun sebagian besar bli dengarkan hanya melalui streaming di YouTube. Kalau album fisik, bli hanya punya beberapa. Sebagian besar adalah album dari musisi indie Bali, ya daerah tempat asal bli. Selain itu, bli juga mepelajari alat musik. Alat musik modern yang sedang bli pelajari adalah keyboard. Apakah teman-teman juga seorang pemain keyboard? 

Penjelasan Mengenai Musik Sebagai Karya Seni 

Baik, bli akan mulai masuk ke inti pembahasan. Musik itu adalah sebuah karya seni. Namun berbeda dengan karya-karya seni lainnya, musik menawarkan fungsi utamanya melalui indra pendengaran. Itulah yang membuat seni musik itu unik. Ia adalah satu-satunya karya seni yang tidak nampak. Ia juga satu-satunya karya seni yang dinikmati dengan cara yang unik, yaitu melalui pendengaran. Musik itu tidak bisa disentuh, tidak bisa diraba, dan tidak bisa dilihat, namun tetap bisa dirasa. Itulah seni musik, sebuah karya seni yang sangat "misterius". Seolah-olah, musik menebarkan pesonanya tanpa perlu menampakkan dirinya secara visual kepada penikmatnya. 

Meskipun fungsi utamanya ditawarkan melalui indra pendengaran, seni musik tetap mampu memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi penikmatnya. Bahkan, ada orang-orang yang mengalami jatuh cinta dengan seni musik. Namun, jika sang penikmat itu sudah jatuh cinta, sebenarnya ia harus mulai waspada. Karena, sedikit saja dia salah melangkah, dia bisa-bisa akan "mati". Bahkan, musik itu sendiripun tak akan mampu membuatnya hidup kembali. 

Musik bisa menjadi anugerah, sekaligus menjadi bencana. Dengan kata lain, pengalaman jatuh cinta dengan musik, bagaikan sebuah "kutukan indah" yang ditakdirkan kepada seseorang. 

Penjelasan Mengenai Musik Sebagai Kutukan yang Indah 

Tapi, kenapa musik itu adalah kutukan yang indah? Ya, Itu karena musik itu memang indah untuk dinikmati, namun lambat laun akan menimbulkan beban jika kita kemudian jatuh cinta padanya. Hal ini disebabkan karena kenikmatan, dan kenyamanan, yang diberikan oleh musik bisa menimbulkan kecanduan. Zat Dopamin kita akan meningkat, kemudian kita pun akan terus-menerus mencoba meraih kembali kenyamanan yang kita pernah dapatkan saat mendengarkan musik. 

Ada beberapa efek yang akan terjadi pada diri kita. Efek yang pertama adalah, kita berpotensi menjadi orang yang malas. Baik, mungkin kita tidak menjadi malas, semua orang pada dasarnya adalah orang rajin. Namun, tidak dapat dipungkiri, bahwa kita berpotensi untuk menjadi orang yang membuang-buang waktu. Itu karena kita terlalu nyaman mendengarkan musik. Begitu selesai dengan lagu pertama, kemudian lanjut ke lagu kedua, dan begitu seterusnya. Pada akhirnya, kebutuhan akan kebahagiaan kita menjadi terpenuhi. Kita pun lelah, dan merasa telah mendapatkan semua yang kita ingin. Pada akhirnya, kita pun mencoba untuk beristirahat, menenangkan adrenalin yang muncul selama kita mendengarkan musik. Hal tersebut terus terjadi berulang-ulang. Hingga akhirnya tak ada pekerjaan apapun yang kita selesaikan saat itu.

Efek yang kedua adalah, kita berpotensi akan mempertimbangkan, untuk menjadikan musik itu sebagai mata pencaharian utama, atau profesi primer kita. Ini nampaknya kasus yang lumayan berat. Kita sudah sangat menyukai musik, dan kita pun tidak ingin memilih pekerjaan lainnya. Karena kita telah menetapkan musik sebagai jati diri kita.

Sebenarnya hal tersebut sangat wajar. Bekerja sesuai dengan minat dan bakat adalah sesuatu yang normal. Tapi yang menjadi permasalahannya di sini adalah, minat dan bakat kita adalah seni musik. Itulah permasalahannya. Secara realistis, seni musik, khususnya dalam hal ini adalah profesi musisi, bukanlah profesi yang dapat diandalkan sebagai profesi primer. Memilih passion musik yang kita miliki sebagai profesi primer, merupakan suatu langkah yang terbilang ringkih. 

Mari kita telaah bersama. Sebelumnya, bli ingin menyampaikan bahwa ini hanyalah pendapat dari sudut pandang bli. Teman-teman tentu ada yang memiliki pendapat yang berbeda. Baik, menurut bli, musik itu bukanlah kebutuhan primer manusia. Dalam suatu acara tertentu, iya, musik adalah elemen primer. Namun, dalam kehidupan kita sehari-hari, musik bukanlah kebutuhan primer. Musik, justru adalah kebutuhan tersier manusia. Dengan kata lain, musik adalah kebutuhan di lapis ketiga, yang mana kebutuhan tersier itu adalah kebutuhan pelengkap. Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang utama, kebutuhan sekunder adalah sebagai penunjang, dan tersier adalah kebutuhan pelengkap. Nah, musik ada dalam kelompok kebutuhan tersier tersebut. 

Karena musik adalah kebutuhan tersier manusia, jadi, bagaimana mungkin kita menjadikan musik sebagai pekerjaan/profesi primer kita? Itu menjadi benar-benar ringkih. Karena musik bukanlah kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari, maka masyarakat yang membutuhkan seorang musisi itu sedikit, dan akhirnya berujung pada pemasukan kita yang pasti sedikit. Kecuali, jika teman-teman memiliki pekerjaan primer lainnya, dan menjadikan profesi musik sebagai pekerjaan sekunder atau sampingan. Pendapatan dari pekerjaan primer itulah yang dapat membantu menunjang hidup teman-teman, di saat karir musik teman-teman yang, tidak menentu.

Secara umum, dalam karir musik, khususnya pada profesi musisi itu sayangnya, tidaklah menentu. Alasannya masih sama. Produk musik yang kita hasilkan itu tidaklah terlalu bermanfaat bagi kehidupan. Alih-alih membeli produk kita, lebih baik uang itu mereka gunakan untuk membeli kebutuhan primer. Dan itu hal yang wajar. Jadi, kita akan sulit untuk menjual produk kita. Satu-satunya cara agar produk musik kita terjual di pasaran adalah, dengan membuat orang lain membutuhkan produk musik kita. Jadi, mereka pasti akan membeli. Bukankah begitu? Tidak mungkin orang membeli barang, jika ia tidak membutuhkan barang tersebut. 

Contohnya adalah dalam penjualan album musik. Agar orang-orang mau membeli album musik kita, kita harus membuat mereka membutuhkan album kita. Kita perlu membuat musik atau konsep album, di mana orang-orang itu ingin untuk membelinya, mereka butuh untuk membeli album musik kita. Hal ini memang mudah untuk dikatakan, tapi praktiknya sangat tidaklah mudah.

Untuk bisa membuat album dan konsep yang disukai banyak orang tentu tidak semudah itu. Kita harus benar-benar membuat musik yang bersedia didengarkan oleh orang-orang. Hal itu tentunya memerlukan waktu dan biaya yang besar. Kita memerlukan waktu untuk bereksperimen, berlatih, dan memproduksi. Itu memerlukan biaya, dan waktu terutama. Jika kita tidak menyiapkan pekerjaan primer lainnya, atau kita tidak punya modal yang cukup. Karya yang maksimal tidak akan pernah kita dapatkan. Atau, jika kita tidak memiliki modal awal, setidaknya kita memiliki pihak lain yang mensponsori diri kita atau grup kita. Intinya, untuk membuat suatu karya musik, kita memerlukan modal yang luar biasa banyak, jika memang ingin menjadi musisi yang profesional. Untuk membuat musik, kita memerlukan uang. Namun, untuk mencari uang itu, kita bermain musik. Itu seperti sesuatu yang berputar-putar tanpa akhir.

Katakanlah kita sudah siap modal, dan mulai memproduksi. Setelah akhirnya produk musik itu jadi, sayangnya, belum tentu juga orang-orang akan tertarik untuk membelinya. Alasannya, lagi-lagi sama seperti sebelumnya, yaitu, produk musik itu bukanlah kebutuhan primer manusia. Selagi mayarakat bisa menikmati musik kita secara gratis, orang-orang tidak akan membeli produk kita. Jadi, orang-orang akan lebih memilih menggunakan uangnya untuk kebutuhan primer, dan menetapkan produk musik kita di urutan kesekian.

Profesi di bidang musik, terutama musisi itu sangat ringkih. Peluang sukses itu tetap ada. Kita bisa sukses menjadi musisi, namun belum tentu kita sukses juga dalam hal finansial. Sukses sebagai musisi tidak menjamin pemasukan kita menjadi banyak. Lagi-lagi, hal itu karena musik bukanlah kebutuhan primer bagi masyarakat.

Kita harus menerima bahwa, musisi-musisi terkenal yang kita ketahui itu, rata-rata memang berasal dari keluarga berada. Atau, setidaknya mereka memiliki pihak lain yang mensponsori karir musik kita. Kondisi itulah yang membuat musisi-musisi itu bisa fokus, dalam menciptakan musik bagus. Mereka bisa lebih tenang menuangkan kreativitas -nya, sehingga karya musik yang indahpun dan berkualitas pun dapat tercipta. Karena karya mereka berkualitas, produk-produk musik mereka pun akhirnya dibeli oleh masyarakat. Teman-teman dapat langsung mengoreksinya, telusuri lebih jauh musisi-musisi favorit teman-teman. Mereka rata-rata datang dari keluarga yang berada, atau disponsori oleh pihak lain. Karena, produksi musik itu memang memerlukan modal dan tenaga yang besar. 

Pengamatan Terhadap Kasus Sejenis 

Sebut saja salah satu grup musik rock asal Inggris, yaitu YES. Grup musik ini mulai merintis karir mereka di akhir tahun 70-an. Di mana, album perdana pertama mereka dirilis pada tahun 1969. Mereka adalah salah satu grup musik yang memprakarsai aliran musik rock progresif. Karya-karya mereka sungguh luar biasa dan unik. Sebagai grup dengan aliran rock progresif, lagu-lagu yang mereka hasilkan sebagian besar berdurasi panjang. Selain itu, skill dan sound-sound yang mereka gunakan juga sangat beragam. Tidak cukup sampai di situ, album yang mereka hasilkan juga banyak. 

Kita perkirakan rentang waktu saat personel YES masih muda, yaitu sekitar tahun 1969-1980. Mereka berusia sekitar 21-25 tahun ketika mulai merintis band mereka. Dari rentang tahun 1969-1980 itu, di usia mereka yang relatif muda, dengan skill dan sound mereka yang luar biasa, mereka menghasilkan total 12 album. Pertanyaannya, mungkinkah hal-hal tersebut mereka raih di usia muda tanpa modal yang besar? Tentu tidak. Menjadi musisi profesional tidak hanya bermodalkan semangat dan cita-cita, tetapi juga modal uang, skill, kreativitas, dan jalinan koneksi yang kuat. 

Contoh lainnya, kita perlu beralih ke negara Jepang. Kita kembali pada tahun 1988, tahun di mana sebuah grup musik Visual Kei legendaris, bernama X Japan merilis album debutnya. X Japan adalah sebuah grup musik yang mengusung aliran musik metal sebagai pakem musik mereka. Mereka juga disebut sebagai grup musik yang memprakarsai lahirnya budaya Visual Kei di Jepang.

Saat perilisan album debutnya itu, mereka berusia sangat muda, yaitu kisaran usia 22-24 tahun. Hebatnya, album debut mereka yang bertajuk "Vanishing Vision" itu dirilis secara independen, melalui label bernama "Extasy Record", sebuah label rekaman yang didirikan oleh drummer/pianis mereka. Untuk hasil karya mereka, sungguh luar biasa. Mulai dari skill, alat, berbagai efek, berbagai sound, dan pengetahuan di bidang musik orkestra mereka miliki. Belum lagi secara visual/penampilan, di mana dandanan mereka sangat glamor dan terkesan eksentrik. Pertanyaannya, apakah hal-hal yang mereka raih tersebut dihasilkan tanpa modal yang mumpuni? Tentu tidak. Kembali lagi, karir di bidang musik itu memerlukan uang, untuk mendapatkan uang.

Kesimpulan 

Bli sampaikan kembali, akan sulit bagi kita yang telah jatuh cinta dengan musik, dan memilih musik itu sebagai profesi primer kita. Justru, kita harus memiliki pekerjaan primer lainnya yang sekiranya dapat menyokong karir musik kita. Tentu jika teman-teman memang ingin menjadi musisi. Tanpa modal uang, skill, dan waktu yang cukup, kita tidak akan menghasilkan banyak pendapatan dari musik. Menjadikan musik yang notabene bukanlah kebutuhan primer manusia sebagai profesi primer kita, berpotensi membuat karir kita menjadi ringkih. Memang benar, jatuh cinta dengan musik, adalah kutukan indah, yang menimpa seseorang.

Catatan :

Gambar ilustrasi postingan ini dibuat dengan teknologi AI, menggunakan aplikasi WOMBO Dream - AI Art Generator . Teman-teman bisa menemukan aplikasi ini di Play Store melalui tautan ini : WOMBO Dream - AI Art Generator. Terima kasih.

Komentar