Cerita Bli #8 - Kebingunan dan Nelangsa Bagi "Si Patah Hati"
![]() |
| Hahh...Patah Hati Sangat Menguras Energi dan Pikiran |
Sementara itu, bagi orang-orang yang cenderung memasukan segala hal ke dalam pikiran, atau "si pemikir", perasaan patah hati akan membebani pikirannya secara signifikan. Patah hati itu akan mengehabiskan ruang-ruang atau celah pikiran yang tersisa di otaknya, seolah-seolah daya tampung pikirannya mengalami sontak kelebihan muatan. Hal ini membuat si pemikir tidak mampu lagi berpikir dengan baik, karena daya tampung pikirannya sudah kelebihan muatan. Sebagaimana perangkat laptop atau ponsel yang ruang penyimpanan memori internalnya hampir habis, perangkat itu akan menjadi sangat lambat dalam memproses sesuatu. Si pemikir pun demikian, dia akan tampak seperti seseorang yang mematung, lambat merespon, lambat bergerak, tidak aktif seperti biasanya, bahkan untuk bernafas saja ia perlu berpikir dulu. Intinya, otaknya sudah tidak bisa berpikir normal lagi, dan bila memungkinkan sebaiknya di-restart ulang.
Namun, bagian diri yang "pemikir" dan "perasa" ini sering kali tidak bisa dipisahkan. Kedua sifat itu ada dalam diri manusia, dan akan muncul jika mendapat stimulasi tertentu. Terlebih lagi, jika stimulasi itu adalah pengalaman patah hati. Patah hati menyebabkan suatu perasaan yang sangat kompleks dalam diri seseorang, sehingga sistemnya akan rusak, dan tak heran jika sifat "pemikir" dan "perasanya" itu akan menjadi melebur.
Sifat "pemikir" akan menyiksa bagian otak, terlebih bagi orang-orang dalam kecenderungan "si pemikir". Karena ia terbiasa memproses segala sesuatunya dengan kompleks di kepala, ia akan mulai memikirkan sejumlah kemungkinan yang menyebabkan patah hati itu bisa terjadi, atau secara sederhana, seperti ini,
"...kenapa hal ini bisa terjadi? Di sebelah mananya yang membuatku sakit hati, di bagian mananya yang membuatku patah hati, kenapa dia seperti itu? Mungkinkah karena hal ini, ataukah hal itu? Kenapa hal itu harus terjadi? Kenapa bisa seperti ini...kenapa bisa seperti itu?..."
Si pemikir pun mulai merajut dan menjahit fakta yang ia dapatkan, ia berusaha menggali kebenaran itu sedalam mungkin, sehingga seluruh pertanyaan di pikirannya terjawab. Sayangnya fakta-fakta tersebut sering kali membuat hatinya semakin patah. Parahnya lagi, jika ada salah satu pertanyaan tersebut tidak dapat ia temukan jawabannya, ia akan menjadi sangat frustasi. Pada akhirnya, kalau ia masih ingin berjuang, mau tak mau ia harus mengambil langkah terakhir, yaitu berdamai dengan isi pikirannya sendiri.
Hal ini tidak mudah, karena pikiran bukanlah barang berbentuk fisik yang gampang dipindahkan, atau ditutupi oleh sesuatu, atau dihilangkan secara cepat dan permanen. Pikiran seperti potongan-potongan halus yang sekelebat bisa hadir tanpa disadari di dalam kepala, mirip seperti adegan film atau panel komik. Hal inilah yang membuat seseorang akan sulit berdamai dengan pikirannya sendiri. Penyakit pikiran ini sangat sukar disembuhkan jika tidak menggunakan kiat-kiat tertentu.
Sementara itu, sifat "perasa" akan menyiksa berat jantung hati seseorang. Bagaikan tertusuk-tusuk tombak tajam. Serangan yang sangat intens pada perasaan ini akan membuat seseorang menjadi sangat sedih. Ia akan merasa sendu, nelangsa, kecewa, hatinya benar-benar remuk. Tulang belakangnya seolah-olah menghilang, dan ia bisa roboh kapan saja. Mungkin tempat tidur adalah area terbaik baginya. Bagi orang-orang yang cenderung lebih perasa, ia mungkin tidak begitu memutar-mutar pikirannya untuk menggali jawaban dari sebab-akibat. Jadi, mungkin saja ia tidak mengalami sakit kepala, bingung, stress, atau frustasi, atau hal-hal semacamnya. Namun, satu yang jelas, ia mengetahui dan menerima fakta bahwa hatinya benar-benar sedih dan nelangsa.
Selain merusak pikiran, perasaan, dan mental, patah hati juga bisa merusak tubuh secara fisik. Seseorang yang patah hati biasanya akan kehilangan nafsu makan. Seenak apapun makanan di depannya, kalau ia sedang apatah hati, makanan itu tampak tak berarti lagi baginya. Yang paling parah, dan mungkin adalah kasus yang termasuk jarang terjadi adalah, seseorang yang patah hati dapat melukai dirinya sendiri. Bagi seseorang yang terserang di bagian pikirannya, ia mungkin saja akan memukulkan benda-benda tumpul pada kepalanya. Dalam kasus yang ekstrem, sudah pasti benda-benda tajam akan digunakan juga. Ini tahap yang paling parah.
Salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan bagi orang yang sedang patah hati adalah, jangan berdiam sendirian di suatu tempat, apalagi itu adalah rumah. Berdiam sendirian akan membuat putaran pikiran di dalam kepala semakin berlarut-larut. Kesendirian dalam nelangsa malah dapat memperkeruh suasana hati. Hal ini bisa saja membuat teman-teman pingsan, atau bahkan kehilangan nyawa. Jadi, sadarlah bahwa siklus ini harus segera diakhiri, dan pergilah keluar. Carilah tempat yang indah, ramai, ataupun penuh interaksi, sehingga putaran pemikiran baru dapat memasuki kepala Anda, sehingga secara perlahan dapat mengusir keluar pikiran-pikiran jahat yang membuat Anda patah hati. Hal ini sangat penting, terutama bagi orang-orang yang punya kecenderungan berpikir. Tumpahkanlah pikiran-pikiran jahat itu, dengan mengisi kepala dengan pemikiran-pemikiran baru yang lebih segar.
Suasana hati akan jauh menjadi lebih baik jika teman-teman pergi keluar. Berjalan-jalanlah, lihatlah langit, pohon, hewan-hewan lucu, dan lakukan hal-hal yang menyenangkan. Yakinlah, patah hati itu pasti akan hilang, dan yang terpenting, jangan melupakan Tuhan. Tuhan selalu bersama kita, mintalah padanya secercah cahaya dan sebuah kekuatan untuk melewati gelombang menyakitkan ini. Semua pasti akan terlewati.
Catatan :

Komentar
Posting Komentar