PYADO #1 - Misteri Buah Kelapa
![]() |
| PYADO #1 - Misteri Buah Kelapa |
Merah : “Si Hitam memang yang paling penakut di antara kita. Iya kan?”
Hitam : “Eh!? Kenapa ringan seperti itu mulutmu bicara!? Nah sekarang begini saja, coba kalian jawab ini. Kalian ingat bukan? Saat hari mulai gelap di taman Festival, kemudian tiba-tiba ada buah kelapa jatuh dari lantai atas. Nah pada waktu itu, siapa yang paling pertama lari di antara kita!? Coba jawab!!!”
Kuning : (Terkekeh) “Ya aku ingat kejadian pada waktu itu. Bukannya kamu ya yang paling pertama lari setelah ada buah kelapa tiba-tiba jatuh dari atas?” (Menunjuk si Hitam).
Hitam : “Iya...Itu memang aku sih. Oke! Kalau begitu, Aku mengganti pertanyaannya. Siapa yang pada waktu itu berlari paling cepat!?”
Biru : “Hmmm, maaf Hitam, tapi bukannya kamu juga yang berlari paling cepat ya? Kita semua tentunya masih ingat kalau kamu yang berlari paling depan.”
Hitam : “Hmmm, iya juga. Itu memang Aku. Oke, terserah kalian deh mau membawa topik pembicaraan ini ke arah manapun. Tapi aku masih belum menyerah. Aku bukan seorang penakut!”
Merah : “Ha! Kamu memang penakut, Hitam. Kenyataan bahwa kamu berlari sangat-sangat cepat, hanya karena seonggok buah Kelapa semakin menegaskan kalau kamu memang pe-na-kut! Ha…ha…ha…Pecundang.”
Hitam : “Dasar tukang bicara tanpa dasar! Lagipula kita semua berlari, termasuk dirimu, kepala Rambutan."
Merah : "Hei! Pada waktu itu Aku tidak berlari, hanya berjalan lebih cepat. Lagipula kau yang-"
Hitam : (Memotong pembicaraan Merah) "Berhenti! Justru, kenyataan bahwa sesuatu yang jatuh itu adalah buah Kelapa, malah membuat segalanya semakin tidak masuk akal dan janggal. Semuanya membuatku bingung."
Biru : “Maksudmu bagaimana, Hitam? Itu kan buah Kelapa sungguhan, apa yang salah dengan hal itu?"
Hitam : "Semuanya salah! Biru, apakah sesuatu yang janggal tidak terbesit di benakmu setelah kejadian yang sangat cepat itu? Bukannya kamu juga yang berada paling dekat dengan buah Kelapa sialan itu?"
Biru : "Di saat kalian semua berlari, aku satu-satunya yang mengamati dan mengambil benda itu, dan itu memang buah Kelapa sungguhan. Tidak ada yang janggal sedikitpun. Kau terlalu khawatir, Hitam.”
Hitam : “Biru, temanku yang paling baik dan bijaksana, kau memang orang yang paling tenang di antara kita. Tapi aku harap kau menggunakan 100% otakmu dalam kasus ini."
Kuning : (Mendekat ke arah Hitam dan sedikit mencengkram kerah bajunya) "Hitam, Aku tahu, kadang-kadang kau memang orang yang ingin dipukul, tapi bisakah kau sedikit saja, sedikit...saja....tidak bertutur kata yang kasar kepada wanita?"
Biru : (Berusaha melerai Hitam dan Kuning) "Hei, ayolah teman-teman, aku bergaul di antara para teman-teman priaku, yaitu kalian. Aku harus menyesuaikan diri dengan bagaimana kalian bersikap, termasuk dengan bagaimana kalian bertutur kata. Jadi...tidak apa-apa, Kuning. Dan... terimakasih." (Tersenyum dengan tulus kepada Kuning).
Kuning : (Bergantian menatap Hitam dan Biru, kemudian secara perlahan melepaskan tangannya dari kerah baju Hitam).
Hitam : "Terimakasih, Biru, dan...terimakasih Kuning, karena telah mencengkram kerah bajuku, sambil menasehatiku soal sopan santun, sungguh pria yang penuh dengan tata krama~. (Menyeringai ke arah Kuning).
Kuning : (Bersandar di dinding sambil menyilangkan kedua tangannya, kemudian menghembuskan nafas). "Baiklah pria aneh bertopeng, lanjutkan saja teorimu itu." (Tersenyum menantang ke arah Hitam).
Hitam : "Ha! Dengar teman-teman. Kenyataan bahwa itu adalah buah Kelapa, membuat kejadian ini semakin aneh. Coba kalian semua ingat-ingat, dan aku hanya mengatakan ini sekali saja. Tidak ada…dengar ya, tidak ada pohon Kelapa di Taman Festival. Nah, apakah itu sudah cukup menjelaskan semuanya!? Lagipula, Aku malah berharap bahwa sesuatu yang jatuh dari lantai atas itu adalah Kepala, ya, Ke-pa-la, alih-alih Kelapa. Hal itu jauh lebih masuk logika dan dapat diterima.”
Kuning : “Hah? Aneh. Apa maksudmu? Kenapa akan lebih masuk akal kalau benda itu adalah Kepala?”
Hitam : “Tentu saja, tukang pelanggar peraturan-"
Kuning : (Tersinggung dengan kata-kata si Hitam) "Apa!? Tukang pelanggar peraturan?"
Hitam : "Iya tukang pemotong pembicaraan orang, tidak ada pohon Kelapa di sekitar sekitar tempat itu. Jadi sungguh aneh kalau sesuatu yang jatuh itu adalah Kelapa. Maksudku, darimana datangnya? Lain cerita kalau itu adalah Kepala. Karena seseorang bisa saja berada di lantai atas, dan itu sangat mungkin terjadi, masuk akal. Kemudian, kepalanya itulah yang terjatuh ke bawah. Itu skenario yang lebih masuk akal dan mudah diterima.”
Merah : “Apa!?? Serius?? Hitam, sungguh kamu berpikir seperti itu!?? Kamu gila atau stress? Atau kebanyakan meminum alkohol?”
Hitam : “Aku serius, tukang marah. Memangnya ada skenario yang lebih masuk akal? Di samping itu, aku tidak pernah meminum alkohol... setidaknya untuk hari ini... Ingat itu."
Merah : “Iya ada lah…! Malah ada banyak! Yang terpenting adalah, akan lebih masuk akal jika semuanya sesuai kenyataan yang ada. Benda itu adalah benar-benar buah Kelapa.”
HItam : “Hei! Aku sudah bilang bukan, tidak ada pohon Kelapa di sekitar tempat itu. Jadi bagaimana buah itu bisa jatuh tanpa adanya pohon!? Coba sekali-kali pakai otakmu untuk berpikir yang-“
Merah : (Memotong pembicaraan Hitam) “Iyaaa kan buah Kelapanya bisa saja dibawa oleh seorang wisatawan ke lantai atas. Kau kira hanya kita saja pengunjung di Taman Festival? Dan juga, mungkin wisatawan itu membeli minuman Kelapa Muda, setelah dia selesai meminumnya, buah sisa Kelapa itu dia tinggalkan di atas sana. Karena posisi buahnya yang terlalu di pinggir, memungkin buah itu disenggol oleh Kucing, Anjing, Burung, atau Kelelawar. Kemudian jatuhlah buah Kelapa itu di dekat kita, dan kita semua langsung lari. Dengar! Skenario ini jauh lebih masuk akal dan dapat diterima, dibandingkan dengan ada seseorang di lantai atas, kemudian kepalanya jatuh ke bawah!”
Hitam : “Ha! Sungguh skenario yang sangat rapuh, Merah! Skenariomu sangat mudah dibantah. Kau tahu bukan? Tidak ada satupun pedagang minuman Kelapa Muda di sekitar Taman Festival. Jangan konyol!"
Merah : (Mulai marah) “Jangan konyol katamu? Katakan itu untuk dirimu sendiri, konyol! Aku tidak tahu kenapa otakmu kurang bisa berfungsi dengan baik, dan itu sering terjadi! Dengar konyol, bisa saja pedagang minuman Kelapa Muda keliling yang lewat, dan wisatawan itu membeli minuman di pedagang itu. Atau, bisa saja wisatawan itu membawa minuman Kelapa Muda dari rumahnya, dan kemudian ia meminumnya di Taman Festival!”
Kuning : (Terkekeh) “Baik-baik, semuanya tenang, sekarang mari kita dengar pendapat dari si Hijau. Dia pasti bisa menetralisir suasana.”
Hijau : (Tertawa heran, kemudian maju mendekati teman-teman lainnya). "Terimakasih, Kuning. Teman-teman, semua akan baik-baik saja jika kalian tidak meninggalkanku pada waktu itu, pada saat aku membeli minuman Kelapa Muda di lantai atas.”
Biru : “Tunggu, Hijau, jadi kau yang membeli minuman Kelapa Muda di lantai atas, dan kemudian melemparkannya dari atas setelah kau selesai meminumnya?”
Hijau : “Iya, Biru, kau benar. Ha...ha...ha..."
Hitam : (Menggosok-gosok dagunya, diam-diam memikirkan berbagai sanggahan untuk mempertahankan pendapatnya, bahwa Kelapa itu sebaiknya adalah Kepala).
Merah : "Kejahilan yang luar biasa, Hijau. Belum ada sebulan Hitam, si pria konyol bertopeng, berkawan dengan kita, namun sifatnya mulai mempengaruhi yang lainnya."
Hitam : "Hei! Aku pria baik yang bertanggung jawab."
Hijau : (Terkekeh). "Tapi hal itu benar-benar mengejutkanku, di saat tiba-tiba ada pedagang minuman Kelapa Muda di lantai atas. Maksudku, hebat juga bapak-bapak itu, bisa membawa gerobak jualannya sampai ke lantai atas, padahal akses ke lantai atas harus melalui anak tangga yang cukup panjang.”
Kuning : “Tapi, Hijau, sepanjang kita semua di lantai atas, tidak ada satupun dari kita yang melihat ada pedagang, apalagi yang sampai membawa gerobak.”
Hijau : “Eh? Benarkah? Kalian tidak melihatnya? Seorang bapak-bapak berpakaian kaus putih yang selalu tersenyum ramah. Dia tampak sangat nyata bagiku. Tapi sungguh aneh kalau hanya aku seorang yang melihatnya." (Memegangi dagunya dan berpikir).
Merah : "Munginkah pedagang itu adalah-“
Biru : “Tunggu! Jangan katakan bahwa dia adalah-“
Hitam : “Dia adalah Hantu! Itu Hantu yang menjatuhkan kepala si Hijau ke bawah! Ha! Kali ini aku menang secara absolut! Itu seharunya memang kepala seseorang.”
Hijau : “Minimal gunakan kepalamu untuk berpikir! Berpikirrrr-lah sebelum berbicara, HItam!”
(Hijau dan Hitam berdebat, sementara itu Biru dan Kuning berusaha melerai mereka. Si Biru melerai dengan tulus, sementara si Kuning melerai dengan bermain-main, sambil berharap usahanya untuk melerai kedua temannya gagal, dan Hijau dan Hitam bisa lanjut berdebat hingga pagi.)
Merah : (Berbicara sabil mengelus dada) “Aku mohon, aku ingin kalian semua pulang dari rumahku. Sekarang.”
Catatan :
Gambar ilustrasi postingan ini dibuat menggunakan teknologi AI, menggunakan aplikasi WOMBO Dream - AI Art Generator. Teman-teman bisa menemukan aplikasi ini di Play Store, melalui tautan berikut : WOMBO Dream - AI Art Generator. Terima kasih.

Komentar
Posting Komentar