Cerita Bli #15 - Beberapa Cerita di Kala Hujan Yang Terus Menerus
![]() |
| Hujan yang terus menerus |
Om Swastyastu.
Saat ini adalah tanggal 12 Februari 2025. Setiap orang di Bali juga pasti merasakan, kalau sekitar semingguan lebih ini, hujan hampir selalu turun sepanjang hari. Bli baru saja pulang dari perjalanan ke kampus, yang awalnya bertujuan untuk mengurus kelengkapan berkas-berkas kelulusan. Tapi kampusnya ternyata tutup, mungkin karena bertepatan dengan hari raya Pagerwesi. Bli kira akan tetap ada pegawai yang berjaga, tetapi ternyata memang tutup sepenuhnya. Perjalanan Bli yang dimulai dari Sanur, tempat Bli tinggal, menuju lokasi kampus pertama, yaitu Renon, dan kampus lainnya, yang terletak di Jimbaran, sepenuhnya didampingi hujan, mulai dari hujan gerimis hingga yang deras.
Hujan memang membuat perjalanan menjadi lebih repot, karena kita harus menyiapkan jas hujan. Akan menjadi buruk, jika kita terlupa menyiapkan jas hujan sebelum berangkat, kecuali bagi pemakai mobil. Sepanjang musim hujan ini, setiap kali Bli akan melakukan perjalanan jauh, Bli sudah memakai jas hujan dari rumah, entah pada saat itu sudah hujan atau belum. Lagipula nanti pasti akan hujan juga pada akhirnya. Keadaan akan menjadi semakin merepotkan bagi para pengguna kacamata, ya, dan Bli adalah salah satunya. Sungguh merepotkan.
Bli bersyukur karena meskipun mata Bli minus, Bli masih mampu melihat cukup jelas, bahkan berkendara tanpa kacamata. Terutama selama masa-masa hujan yang tak pernah berhenti ini, Bli memutuskan untuk menghindari pemakaian kacamata, karena cukup ribet, dan meribetkan diri sendiri. Alih-alih bisa melihat dengan lebih jelas, pandangan kita yang menggunakan kacamata malah menjadi kabur, karena rintik-rintik air hujan yang menempel/mengalir pada lensa mata. Hal ini cukup berbahaya, apalagi ketika berkendara. Kita menjadi tidak bisa melihat dengan jelas melihat objek di depan kita.
Di samping itu, keadaan akan semakin repot jika pengguna kacamata itu juga menggunakan masker. Setiap kita bernafas, masker yang kita pakai itu akan mengalirkan hembusan udara itu ke atas, yang tidak lain dan tidak bukan akan menuju arah kacamata kita. Hembusan nafas kita itu akhirnya membentuk embun yang menempel pada lensa kacamata. Hal ini jelas sangat mengganggu pandangan. Kombinasi dari hal-hal tersebutlah yang membuat Bli akhirnya memutuskan untuk tidak mengenakan kacamata untuk saat ini. Syukurnya, segalanya masih berjalan dengan aman. Kecuali jika Bli harus membaca suatu tulisan yang jauh, barulah Bli memakai kacamata lagi.
Hal lain yang menjadi sorotan Bli sepanjang musim hujan kali ini adalah, Bli belajar bahwa rumah itu tidak akan kokoh selamanya. Ya, rumah yang kita tinggali sama seperti tubuh kita, harus selalu dirawat, dipelihara, dan bisa juga mengalami "sakit". Seperti yang saat ini Bli alami di rumah. Hal yang umumnya terjadi di rumah ketika terjadi hujan terus menerus adalah kebocoran. Yang mengalami kebocoran bukan hanya atap, melainkan juga dinding. Jadi, bocoran air itu tidak hanya menetes dari atas, tetapi juga merembes melalui dinding. Rumah benar-benar sedang sakit, ya, sakit pilek.
Sebenarnya kebocoran di rumah Bli itu hal yang biasa, maksudnya sudah lama terjadi, Tapi, sayangnya, kini muncul titik-titik kebocoran baru, yang sayangnya lagi, muncul di ruang kerja Bli. Sedih sekali, ruang kerja kesayangan Bli, yang merupakan satu-satunya tempat bagi Bli untuk bekerja dengan nyaman kini banjir. Ya, itu benar-benar banjir, Bli harus mengevakuasi barang-barang penting, terutama perangkat elektronik dari kamar Bli. Banjir ini pertama kali terjadi pada 29 Januari 2025 lalu. Saat itu adalah pukul 1 siang dan hujan turun cukup lebat. Bli yang pada waktu itu masih membuat tugas kuliah, kaget karena celana Bli tiba-tiba basah. Sebelum Bli menoleh ke belakang untuk mengecek apa yang sedang terjadi, Bli sudah menduga, pasti air merembes. Dan benar saja, tanpa Bli sadari, ruang kerja Bli sudah terendam banjir.
Mulai sejak itulah, ruang kerja Bli itu hampir selalu banjir jika hujan. Setelah Bli amati, penyebabnya adalah pasangan jendela di tembok sebelah Barat. Pasangan jendela itu memang telah lama rusak, jadi daun jendelanya tidak bisa ditutup dengan sempurna. Rintik-rintik air hujan akan mengalir ke celah daun jendela yang terbuka itu, dan sedikit-demi sedikit kemudian menetes ke lantai ruang kerja Bli. Tetesan-tetesan kecil itulah yang lama-kelamaan menyebabkan banjir di ruang kerja Bli.
Tapi satu hal yang belum Bli pahami adalah, daun jendela itu kan memang tidak tertutup sempurna sejak dulu, tapi kenapa baru saat ini air hujan bisa masuk, bahkan menyebabkan banjir? Hmm...pasti ada sesuatu yang tidak beres. Sayangnya Bli belum sempat memikirkan hal itu lebih jauh. Yang jelas, Bli kini jarang sekali bekerja di ruangan itu lagi. Semoga saja, kerusakannya tidak terlalu parah.
Beranjak dari peristiwa itulah, Bli berpikir bahwa, rumah itu perlu pemeliharaan. Tidak ada rumah yang benar-benar kokoh selamanya. Dan kita sebagai pemillik rumah, harus mengenal rumah kita sendiri. Tapi berbicara soal keadaan cuaca, sebenarnya Bli cukup menyukai musim hujan. Memang sih, setiap aktivitas, baik yang di dalam ruangan, maupun di luar ruangan menjadi terkendala, tapi suhu lingkungan menjadi sejuk. Polusi udara di jalan raya juga serasa berkurang. Namun hujan terus menerus juga tidak baik, semua menjadi sangat lembab, jemuran pakaian menjadi sulit mengering, para nelayan susah melaut, tanaman pangan juga terdampak secara kualitas. Pada akhirnya, tetap harus ada keseimbangan yang didatangkan musim panas.
Catatan :
Gambar ilustrasi postingan ini dibuat dengan teknologi AI, menggunakan aplikasi Wombo Dream -AI Art Generator. Teman-teman bisa menemukan aplikasi ini di Play Store, melalui tautan berikut : Wombo Dream - AI Art Generator. Terima kasih.

Komentar
Posting Komentar