Cerita Bli #16 - Sistem yang Aneh, Saya Tidak Mengerti
Kalian tau? Meskipun terdengar luar biasa, memiliki orang tua yang menjalankan bisnis itu menghasilkan tantangan tersendiri. Bahkan setiap hal luar biasanya pun memiliki sisi buruknya. Tidak selamanya hal itu membahagiakan.
Ibu saya memiliki usaha di bidang Bridal. Usaha ini menjalankan jenis-jenis pekerjaan, seperti, tata rias pengantin, penyewaan busana/pakaian, penyediaan dekorasi pengantin untuk resepsi, dan lain-lain. Dilihat dari jenis pekerjaan yang dijalankan, kita semua pasti sadar bahwa pekerjaan ini membutuhkan team. Tidak bisa dikerjakan sendiri, pastinya. Namun, anehnya, ibu saya tidak pernah memiliki team yang pasti. Secara keseluruhan, dan harfiah, dia melakukan semuanya sendiri.
Lalu, darimana ibu saya mendapatkan bantuan tenaga tambahan untuk menjalankan usahanya? Itu didapatkan dari anak-anaknya, dalam hal ini tentu adalah saya, dan adik-adik saya, serta tukang-tukang yang dimiliki oleh Bapak saya. Ya, Bapak saya adalah seorang kontraktor, jadi dia memiliki tenaga tukang yang sangat mumpuni.
Dan permasalahannya adalah, saya sering merasa "terkurung" oleh jadwal kerja Ibu saya. Saya tidak bisa menyusun jadwal harian saya sendiri. Padahal saya juga memiliki pekerjaan yang ingin saya lakukan. Suatu rencana untuk investasi masa depan saya. Lantas, bagaimana saya bisa berkembang?
Saya berada di posisi yang serba tanggung. Kalau saya tidak membantu, saya seolah melukai batin saya sendiri. Karena ini adalah usaha Ibu saya, dan terutama, fisik Ibu saya yang mulai melemah karena kesehatan dan usia. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak membantu Ibu saya, itu sudah menjadi keharusan. Saya juga tidak ingin jika Ibu mengeluh lagi bahwa tidak ada yang membantunya. Saya selalu berusaha menurunkan ego saya. Tapi lagi-lagi saya kembali bertanya, bagaimana saya bisa berkembang di bidang minat dan bakat saya sendiri? Saya yakin, saya yakin ada sesuatu sistem yang salah di sini. Saya selalu berpikir, seharusnya Ibu memiliki karyawan. Karena ini sungguh aneh, kalau Ibu memang berniat menjalankan bisnis seperti ini, seharusnya Ibu menyiapkan dana untuk karyawan.
Dulu saya selalu berpikir, mungkin Ibu tidak bisa membayar karyawan karena masih menanggung pendidikan kuliah saya. Tapi, bukankah kita harus selalu beradaptasi dengan keadaan apapun yang mungkin datang? Lagi-lagi saya berpikir ini sungguh aneh. Menjalankan bisnis dengan anak-anak itu sebagai karyawannya. Anak-anak juga memiliki jalan yang harus dia jalani. Kalau memang seperti itu sistem bisnisnya, saya ragu kalau ini bukanlah bisnis secara harfiah. Maafkan, atas pemikiran saya ini.
Tapi pemikiran lain kembali muncul di benak saya. Orang tua sudah berkorban luar biasa untuk menghidupi saya dan adik-adik saya. Sungguh tidak manusiawi, jika di kala dewasa, anak-anak tidak dapat membantu orang tua, karena alasan sibuk. Itu terdengar tidak etis. Saya tidak mengerti hal ini. Bisakah seseorang jelaskan pada saya, bagaimana seharusnya sistem ini berjalan?
Yang saya ingin orang tua saya mengerti adalah, sebenarnya saya ingin sekali bisa menyusun jadwal harian saya sendiri. Saya ingin berjalan sesuai dengan arah yang ingin saya tuju. Saya tau, hal itu hampir tidak mungkin, terutama mengingat bahwa, fisik dan kesehatan Ibu saya yang kadangkala drop. Contohnya seperti saat saya membuat tulisan ini, di mana Ibu saya didiagnosa mengalami masalah di bagian saraf. Tapi mohon maafkan, kalau saya agak sulit mengembangkan minat dan bakat saya. Dan setidaknya, tolong mengertilah, bahwa kondisi saat ini agak menyulitkan saya untuk berkembang.
Ini menjadi dilema bagi saya. Apakah memang di usia dewasa ini saya harus mulai belajar menjalani hidup secara realistis? Harus bisa beradaptasi dengan apapun kondisi yang mungkin datang? Ya, sepertinya memang itu jawabannya. Saya yang harus beradaptasi dengan keadaan.
Komentar
Posting Komentar