Cerita Bli #20 - Luapan Perasaan yang hampir meledak-Bukan Tentang Menang, tapi Dimengerti

Aku sempat sedikit berargumen dengan Ibuku. Sedikit kok, hanya saling berbalas 2-3 kalimat. Aku memutuskan untuk selesai berargumen, karena aku tau jika dilanjutkan ini akan menjadi bara api. Jadi aku memutuskan untuk berhenti saja, meskipun hatiku terasa ingin meledak, karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, tapi itu tidak terjadi.

Aku tidak pernah berharap untuk "menang" dalam berargumen dengan seseorang. Tidak pernah sama sekali. Aku hanya ingin lawan bicaraku itu mengerti sepenuhnya apa yang ingin aku sampaikan. Aku juga tidak melakukan itu agar lawan bicaraku setuju denganku, tidak. Aku hanya ingin dia mendengarkan keseluruhan isi hatiku.

Seolah aku ingin berkata,

"Oke, akhirnya kamu sudah mendengar semua yang ingin aku sampaikan. Aku harap kamu mengerti secara garis besar, bukan untuk sekonyong-konyong setuju denganku."

Bila pun aku akhirnya "kalah", dalam beradu argumen itu tidak apa-apa. Berarti memang aku yang perlu refleksi diri.

Aku ingin bercerita tentang apa yang aku dan Ibuku bicarakan. Jadi begini, setiap bulan, Ibuku menyisihkan uang kurang lebih satu juta, untuk biaya edit foto ke studio foto, tempat Ibuku bekerjasama.

Ibuku berkata padaku, "Coba saja kamu mau (belajar), pasti Ibu tidak perlu membayar lagi."

Aku sedikit tidak setuju dengan kalimat Ibuku. Aku berpikir, kenapa harus menyalahkan orang lain, atas suatu masalah? Maksudku, apakah ini jadi salahku? Kenapa Ibuku berkata seperti itu? Apakah selama ini aku melalui pendidikan formal, dan dibentuk untuk menguasai aplikasi editor foto/fotografer? Tidak.

Maksudku, sekalipun aku berkata, "Ya, aku mau", saat itu juga, hasil editan yang aku kerjakan tidak akan sama seperti editor profesional itu, terlebih lagi dalam waktu mingguan atau bahkan bulanan. Perlu berlatih intensif selama setidaknya sebulan, atau tahunan. Coba bayangkan, berapa tahun yang diperlukan editor profesional itu untuk menghasilkan editan yang bagus seperti itu.

Aku pun menyampaikan pada Ibuku, "Tapi Bu, perlu waktu mingguan, sampai bulanan, untuk aku bisa seperti itu" (Aku hanya mencoba menyampaikan, sekalipun aku bilang "Iya, aku mau.", perlu waktu untuk mencapai level profesional itu.)

Lalu Ibuku berkata sambil terkesan menggurui, "Ya kan bisa dicicil, semua itu gak ada yang instan. Ibu gak minta sekarang langsung bisa."

Setelah Ibuku berkata seperti itu, aku langsung diam. Hatiku ingin meledak-ledak. Kalau memang Ibuku tau dan paham semua itu perlu proses, kenapa beliau seolah menyalahkan aku di awal dengan kelimat seperti di awal tadi,

"Coba saja kamu mau (belajar), pasti Ibu tidak perlu membayar lagi."

Itu kan terkesan seperti mencari kambing hitam, atas permasalahan yang terjadi. Kalau memang dari dulu Ibu memproyeksikan aku untuk bisa menjadi editor foto, khususnya foto wedding, kenapa dahulu tidak menyampaikan ke aku seperti,

"Nak, Ibu perlu sekali seseorang yang ahli editing foto wedding. Kamu belajar ya."

Memang, Ibuku pernah menyarankan aku untuk belajar editing foto, aku mengakui itu. Tapi ya hanya itu saja, tidak ada kepastian dan "kontrol" berkala mengenai apakah aku memang perlu untuk mempelajarinya atau belum, dan apakah beliau memang benar-benar memerlukanku. Itu seperti mengambang, seperti tidak ada kepastian.

Aku memang belum benar-benar mempelajari editing foto. Bukan karena aku tidak mau, tapi aku mempelajari hal-hal yang memang pasti aku rencanakan dan ingin aku lakukan dalam hidupku. Waktu sangat terbatas, aku benar-benar ingin mempelajari apa yang benar-benar krusial untuk hidupku.

Aku ingin bercerita sedikit, Ibu benar-benar ahli berargumen. Atau, secara ekstrem, bisa dibilang Ibuku sangat "jago debat". Siapapun yang beradu argumen dengannya pasti akan merasa "tunduk", dan meyakini bahwa Ibu benar. Ada sisi baik dan buruk dalam hal ini. Itu seimbang. Tentu Ibuku mendapatkan kemampuan itu tidak secara instan. 

Ibuku memiliki kemampuan seperti itu, setelah mengalami manis dan pahit kehidupannya. Aku bisa membayangkan bagaimana kerasnya kehidupan yang Ibuku pernah Ibuku lewati sampai saat ini. Aku benar-benar menghargai Ibuku, kedua orang tuaku. Mereka benar-benar sudah berjuang mati-matian. Aku jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.

Adu argumen singkat itu sudah benar-benar berakhir. Aku menumpahkan apa yang ingin aku curahkan melalui tulisan ini. 

Komentar