Cerita Bli #21 - Tidak Ada yang Instan? Tidak Ada yang Instan!? Tidak Ada yang Instan!!?

Di dunia ini memang benar-benar tidak ada yang instan. Seperti kata orang-orang, mau buat mie instan-pun kita harus memasaknya dulu. Mau buat kopi atau teh? Kita juga harus menyeduhnya terlebih dahulu. 

Kita cari hal-hal yang lebih instan lagi, misalnya sosis instan. Bahkan untuk memakan sosis instan, yang tinggal dimakan itu pun kita harus membelinya dulu di warung. Misalnya kita menyetoknya di rumah, kita mesti ke kulkas dulu untuk mengambilnya. Baiklah, anggap jika sosis itu ada di meja di dekat kita, kita harus mengumpulkan sedikit tenaga untuk meraihnya. Bila pun kita sudah meraihnya, kita mesti membuka dulu bungkusnya yang super rapat itu. Agar mudah membukanya, kita perlu gunting. Jika tidak ada gunting, kita harus mencarinya terlebih dahulu. 

Baik, sekarang yang agak tidak masuk akal. Tapi coba bayangkan kita punya teknologi, untuk menyetok sosis itu di mulut kita, selama berjam-jam. Seandainya kita ingin, kita tinggal makan saja. Mudah banget kan?Kurang instan apa lagi coba? Ini seolah-olah puncak ke-instanan. Tapi, meskipun dengan cara seperti ini, jika kita ingin memakannya, kita harus mengunyah sosis itu dulu beberapa kali sebelum bisa memakannya. 

Oke-oke, sekarang kita bayangkan metode yang lebih gak masuk akal lagi, tapi siapa tau di masa depan beneran akan ada. Misalkan kita punya teknologi, yang memungkinkan kita untuk menyetok sosis itu di perut kita. Ketika ingin, kita tinggal diam saja dan sosis itu otomatis terkonsumsi. Ini udah instan banget! Ini super instan! Adakah yang lebih instan dari ini? Tapi, tunggu dulu, bahkan dengan cara se-instan inipun, tubuh kita perlu serangkaian proses untuk bisa menikmati sosis instan itu. Proses-proses tersebut melibatkan reseptor rasa di lidah, penciuman hidung, sistem saraf,  hingga semua itu berakhir dan diproses di otak. Barulah kita bisa merasakan enaknya rasa sosis itu. Jadi benar-benar tidak ada yang instan.

Bahkan, karma instan pun perlu proses juga. Misalnya kita secara sengaja membakar ujung jari kita dengan api, sebelum benar-benar merasakan panas, ada banyak proses yang terjadi. Ada reseptor panas dan nyeri mengirimkan sinyal ke sumsum tulang belakang kita, lalu sinyal naik ke otak agar kita menyadari rasa panas dan nyeri tersebut.

Jadi, jangan mengharapkan sesuatu yang instan. Bahkan sesuatu yang terlihat sangat, sangat, instan pun memerlukan proses di dalamnya. 

Komentar