Cerita Bli #25 - Semua Ini Demi Impian, Tidak Ada Satupun yang Tidak Berguna-Aku Harap Dirimu Mengerti

Ternyata, Ibuku menganggap aktivitas olahraga-ku selama ini di lapangan Renon hanya membuang-buang waktu. Dalam dua Minggu terakhir ini, aku memang rutin ke lapangan Renon, sekitar 2-3 hari sekali. Aku melakukan itu bukan hanya sebatas mengisi waktu luang, tidak, sama sekali tidak, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar itu. Ada hal yang jauh lebih dalam, sebuah cita-cita yang ingin aku capai. Aku tidak akan membuang-buang waktu untuk hal yang memang tidak penting bagiku. Lagipula, kenapa aku harus repot-repot melakukan sesuatu jika itu memang tidak berguna untukku?

Aku tidak percaya, Ibuku bisa menganggapku melakukan sesuatu yang tidak berguna melalui olahraga. Ibuku berkata dengan jelas, dan saat mendengarnya, rasanya aku ingin berteriak dan membantah semua itu. Tapi aku tidak melakukannya, aku tau Ibu sedang sangat lelah, aku tidak ingin perasaan Ibu semakin lelah dan letih karena anak laki-lakinya membentaknya.

Ibu menganggap aktivitas kardioku di lapangan Renon hanya sebatas mengisi waktu luang saja, tidak ada bedanya dengan membuang waktu. Yang membuatku semakin sedih adalah, aku sudah melakukan aktivitas ini secara rutin, selama 2 Minggu ini. Jadi, dalam 2 Minggu ini Ibuku menganggapku membuang-buang waktu? Selama 2 Minggu ini aku juga rutin workout di rumah. Jangan-jangan, Ibu juga menganggap hal ini membuang-buang waktu? Lalu, kegiatan apa yang tidak membuang-buang waktu?

Jadi, daripada akh melakukan semua aktivitas itu, Ibu memintaku agar lebih baik membantu pekerjannya saja. Aku kemudian menjelaskan ke Ibu, aku mengingatkan bahwa aku tidak pernah mengambil waktu membantu Ibuku untuk berolahraga. Aku tidak pernah berkata, 

"Maaf ya Bu, aku tidak bisa membantu Ibu hari ini. Hari ini kan jadwal olahraga-ku. Besok-besok aja ya."

Malah, setiap kali aku sedang kardio di lapangan Renon, dan Ibuku tiba-tiba menelepon meminta bantuan, aku langsung berhenti, dan bergegas pulang untuk membantunya.

Kardio ini sangat penting bagiku. Aku tidak ingin sesuatu yang penting bagiku hanya dianggap membuang-buang waktu oleh seseorang. Tapi, aku mewajarkan tanggapan Ibuku, dia memang belum paham. Lagipula, aku tidak tau, apakah Ibu akan paham jika aku menjelaskannya. Sepertinya tidak, aku tidak akan mampu membuat Ibuku mengerti. Aku hanya bisa menghembuskan nafas, bersabar, dan berharap bisa membuktikan pada Ibuku melalui karya dan prestasi. 

Tapi, sebenarnya ada juga sisi positif dari sifat Ibuku yang seperti ini. Setiap kali aku diremehkan, motivasi itu akan muncul. Semua ini mengingatkan aku tentang apa tujuan yang ingin aku raih. 

Kemudian, bagaimana aku akhirnya bisa rutin kardio dan workout, padahal dulu aku sangat malas, dan tidak memiliki motivasi? 

Aku memantapkan diri untuk memulai rutin kardio di lapangan Renon, karena satu hal. Bukan langsung karena keinginan olahraga itu sendiri, bukan, sedikit agak melenceng, yaitu, ini semua agar aku menjadi seorang penyanyi yang baik. Itulah motivasi utamaku. 

Setelah menemukan motivasi itu, barulah aku merasa senang, karena aku akan mendapatkan manfaat lainnya, yang tentunya adalah kesehatan. Aku bisa menjadi penyanyi yang baik, sekaligus memiliki tubuh yang sehat. Aku merasa senang akan rutinitas ini. Ini semacam investasi jangka panjang, semua ini pasti akan menjadi sesuatu di kemudian hari. 

Aku percaya, dengan memiliki tubuh yang fit, aku akan bisa menjadi seorang penyanyi yang baik. Aku harus menembus batas itu, aku harus mampu memiliki tubuh yang fit, bugar, dan stamina yang baik. Aku percaya itu, dan aku harus bisa meraih hal itu. 

Ini semua terjadi karena salah satu musisi Jepang favoritku, dia bernama Gackt. Dia mulai dikenal, setelah menjadi vokalis dari band Visual Kei, yaitu Malice Mizer. Aku sangat mengagumi dirinya. Aku kagum dengan suaranya, kreativitasnya, karyanya, juga visual, hingga fisiknya. Dia adalah motivasi awalku. Sebuah sosok penyanyi yang ideal. Itu memang terdengar sangat ideal, namun Gackt memang seperti itu. Aku harus menembus batas itu.

Aku membaca beberapa artikel di internet, dan ternyata benar, Gackt adalah sosok yang sangat disiplin soal kesehatan. Aku lupa tepatnya jam berapa, tapi seingatku, dia bangun sebelum jam 6 pagi, dan tak pernah melewati rutinitas olahraganya. Tak heran jika dia memiliki fisik yang begitu prima. 

Membaca cerita Gackt tersebut membuatku menjadi mantap untuk mengikuti idolaku itu. Aku memang belum bisa se-berdedikasi seperti Gackt, tapi aku memulainya dari hal kecil, yaitu rutin home workout dan kardio. Aku tidak melakukan dua hal itu setiap hari, tetapi rutin, dan tentunya memperhatikan kondisi tubuh serta waktu. 

Gackt sangat spesial. Setelah Gackt, musisi Jepang lainnya yang menginspirasiku karena karya dan fisiknya adalah Kyo, yang paling dikenal secara monumental, sebagai vokalis dari band Dir En Grey. Siapapun yang melihat sosok Kyo, pasti langsung bisa melihat, bahwa Kyo sangat bertanggung jawab terhadap tubuhnya. 

Tubuh Kyo menurutku memiliki proporsi yang ideal sebagai pria. Bukan hanya sebagai sosok penyanyi, melainkan sebagai sosok pria. Badannya tidak besar, dan juga tidak kecil. Yang paling menonjol darinya adalah, massa ototnya yang ideal. Kita juga bisa melihat otot-otot perutnya. Meskipun tidak sepenuhnya terlihat sixpack, tapi itu adalah otot perut yang kencang dan kuat.

Aku yakin fisik seperti itu dia dapatkan dari komitmen yang kuat dalam olahraga, dan workout. Selain itu, dari informasi yang aku dapatkan dari artikel di internet, sebelum menjadi seorang musisi, Kyo di masa mudanya pernah bekerja sebagai pekerja bangunan. Hal ini sedikit tidaknya mempengaruhi fisik dan stamina Kyo yang luar biasa. Kyo, adalah seorang pria yang berdedikasi. Aku menyukainya, dan menjadikan Kyo sebagai sosok motivasi. 

Setelah Gackt dan Kyo, musisi Jepang lain yang mempengaruhiku secara karya dan fisik, adalah Yoshiki Hayashi dan Kiyoharu Mori. Dua musisi dengan peran sekaligus genre yang sangat berbeda. Aku menyukai dua karya mereka, sangat, aku mencintai dua musisi ini. Selain karya mereka, aku juga sangat mengidolai fisik mereka. 

Fisik Yoshiki dan Kiyoharu, bisa dibilang memiliki perbedaan dengan dua nama di atas yang aku sebutkan sebelumnya. Jika Gackt dan Kyo bertubuh fit, dengan massa otot yang ideal, maka fisik Yoshiki dan Kiyoharu terbilang ramping, cenderung kurus, namun fit, namun dengan stamina sama-sama yang tinggi. Yoshiki setidaknya memiliki badan yang sedikit lebih "terbentuk", dibandingkan Kiyoharu. Namun keduanya tetap ideal bagiku. Kurus, ramping, namun tetap fit. 

Selain 4 nama di atas, ada juga nama-nama musisi lain yang aku sukai karya dan fisiknya, yaitu Hyde, yang paling dikenal sebagai vokalis dari L'Arc~en~Ciel, serta Ruki, vokalis luar biasa dari band The GazettE. Aku memang tidak begitu mendengarkan L'Arc~en~Ciel, namun aku mengagumi suara dan fisik dari Hyde, yang sangat konsisten dalam sekitar 3 dekade. 

Begitupun dengan Ruki. Berbeda dengan Hyde, aku mendengarkan band Ruki, yaitu The GazettE dari album ke albumnya. Aku sangat menyukai suara Ruki yang sangat merdu, kuat, dan dinamis. Ruki setahuku memang tidak pernah membuka bajunya, dan memperlihatkan fisiknya. Namun, dengan melihatnya berdiri di atas panggung, dan mengamati postur tubuhnya, gerak tubuhnya, dan staminanya, aku bisa tau kalau tubuh Ruki sangat fit. Tubuh Ruki mungkin mirip seperti Yoshiki atau Kiyoharu.

Nama-nama musisi di atas adalah motivasi utamaku untuk berolahraga. Sebagian besar dari mereka adalah vokalis. Aku semakin percaya, untuk menjadi seorang vokalis yang baik, aku harus memiliki tubuh yang sehat dan fit. Dan ini nyata, sangat nyata. Penampilan visual seorang vokalis, mempengaruhi banyak hal dalam perjalanan karirnya. 

Intinya, untuk menjadi seorang vokalis Bali yang istimewa, aku harus menembus batas-batas konvensional. Aku tidak tau apa yang terjadi di masa depan nanti, namun aku akan akan melakukan yang terbaik di saat ini. Aku tidak ingin mati dengan penyesalan. 

Komentar