Cerita Bli #27 - Aku Pernah Bahagia, Namun Aku Tidak Mengerti Apa Hakikat Dari Kebahagiaan Itu
Aku ingin bercerita soal apa yang biasanya aku rasakan, ketika aku melihat, dan menjalani kehidupan ini.
Aku, tidak tau, bagaimana sistematika kesenangan, atau kebahagiaan di dunia ini. Maksudku, bahkan ketika suatu waktu kita merasa bahagia, besoknya, atau beberapa jam setelah itu, kebahagiaan itu lambat laun akan menghilang.
Aku berpikir secara ekstrem,
"Untuk apa kita mengekspresikan kesenangan secara berlebihan, kalau kita tau, kesenangan atau kebahagiaan itu hanya bersifat sementara."
Tapi jujur, aku bahkan tidak mengerti tentang apa yang aku pikirkan.
Setiap kali aku jalan-jalan ke kampus, tempatku dulu kuliah, aku sering kali melihat seorang mahasiswa/i, yang baru saja selesai melaksanakan sidang. Mereka menggunakan kemeja putih, dan bawahan hitam. Kadang, dilengkapi juga dengan dasi hitam, baik dengan model konvensional atau yang kupu-kupu.
Aku mencari tempat yang nyaman untuk duduk beristirahat. Dari tempatku duduk itu, aku bisa mendengar sorak sorai sahabat-sahabat, yang menyelamati dan merayakan pencapaian temannya itu. Sahabat Mahasiswa/i yang baru menyelesaikan sidang itu, akan memberikan bunga, selempang, dan banner berisi nama teman mereka, lengkap dengan gelar yang masih dilakban. Seperti yang kita tau, lakban yang menutup gelar itu, nantinya akan dibuka, seiring dengan aba-aba :
(Misalnya, dengan teriakkan) "I Wayan Bali, S.T. !!!!"
"Yeeeeyyyy"
"Horeee"
"Wleowleowleo"
"Wkwkwk"
"Asikkk selamat yaaa"
"Wirwirwirwir"
Dari kejadian itu, aku berpikir banyak hal,
"Apakah mereka benar-benar bahagia?"
"Apakah setelah melakukan perayaan ini, dan kalian bahagia, maka bahagia itu akan tetap terasa begitu kalian sampai di rumah?"
"Apakah semua dari kalian benar-benar bahagia atas pencapaian teman kalian?"
"Apakah kalian pernah berpikir, perayaan ini tidak berarti dibandingkan dengan masalah besar lainnya nanti di dunia kerja?"
"Kenapa kalian merayakan ini?"
"Apakah itu karena kalian begitu riang gembira saat ini? Bukankah, perasaan riang gembira itu juga akan hilang pada akhirnya?"
"Bukankah perjalanan kalian masih sangat panjang?"
"Sudahkah kalian memikirkan apa yang ingin kalian lakukan setelah lulus?"
"Apakah kalian memikirkan lingkungan?"
"Apakah kalian memikirkan permasalahan sosial?"
"Apakah Skripsi atau Tugas Akhir yang kalian susun itu bernilai untuk kehidupan nyata?"
Hal yang sama juga aku rasakan ketika aku wisuda. Banyak orang merasa suka cita atas Wisuda mereka. Mereka merayakannya dengan teman-teman mereka. Hampir sama seperti kasus sebelumnya, mereka saling merayakan kelulusan satu sama lain, baik itu dengan bunga, foto, boneka, selempang hingga teriakan kegembiraan.
Sementara aku, aku tidak begitu bahagia. Aku menjalani itu hanya sebagai formalitas. Bukan berarti aku tidak bahagia, namun, kebahagiaan saat wisuda ini tidak berarti apa-apa, dibandingkan dengan tantangan yang akan aku hadapi setelah ini di kehidupan nyata. Ketika berada dalam gedung wisuda, aku terus menerus berpikir,
"Kenapa kami harus melakukan prosesi wisuda ini? Bukankah, pendidikan itu tidak pernah berakhir? Ketika kami di wisuda, itu seolah seperti, tahapan belajar kami sudah selesai. Kami seolah sudah pintar, cerdas, dan memiliki ijazah. Padahal, pendidikan itu terus berjalan sepanjang usia.
Lalu, kenapa kami harus melakui prosesi yang, tidak penting-penting amat ini? Lagipula seusai acara ini, kami mesti berjuang lagi. Yang lebih parah lagi, saya tau, bapak dan ibu dosen sudah terlalu lelah untuk terus mengikuti prosesi wisuda yang berjalan hampir 4 jam ini. Jadi, tidak apa-apa, berhentilah berpura-pura tersenyum. Saya tau, di balik senyum itu, ada tekanan yang luar biasa."
Kehidupan nyata begitu keras, dan penuh kebohongan. Aku bahkan tidak tau apakah perasaan bahagia itu nyata atau tidak. Aku tau semua orang berpura-pura bahagia, padahal dalam hati mereka mungkin ada kesedihan yang tersimpan.
Aku memikirkan sebuah skenario paling membahagiakan bagi seorang pria. Skenario itu adalah memiliki seorang kekasih. Memiliki seorang wanita yang mencintainya dengan tulu, sering kali dianggap sebagai kebahagiaan tertinggi bagi seorang pria.
Aku mencoba memahami kebahagiaan itu. Aku bisa untuk mencoba merasakan perasaan itu. Aku mudah merasakan ketertarikan kepada wanita. Aku tipe orang yang cepat sekali merasa jatuh cinta. Setiap kali aku melihat seorang wanita yang menarik, aku begitu kagum dan terpesona.
Tidak jarang, aku menyisihkan sedikit waktu, untuk membayangkan, seolah bagaimana jika wanita yang aku sukai menjadi kekasihku. Hal itu menyenangkan untukku. Aku bisa berimajinasi tentang skenario apa yang mungkin akan terjadi di antara kami berdua. Aku memikirkan berbagai kemungkinan kisah, dialog, dan latarnya. Ya, itu memang membahagiakan.
Tapi, aku kembali berpikir. Baiklah, jika pada akhirnya aku bersama dengan wanita idamanku, dan kami menjadi sepasang kekasih. Namun, setelah itu apa?
Kita pada akhirnya bersama dengan pasangan yang kita dambakan, tapi setelah itu apa? Itu tidak menjamin kebahagiaan. Aku merasa, bahkan dengan aku memiliki wanita idamanku, belum tentu juga aku akan bahagia. Mungkin iya, aku akan merasakan kebahagiaan, tapi kebahagiaan itu sifatnya hanya sesaat.
Aku benar-benar tidak tau apa hakikat dari kebahagiaan. Aku tidak tau, apakah orang-orang juga merasakan hal yang sama?
Tapi, aku sadar. Mungkin saja ini memang murni kesalahanku. Mungkin saja memang diriku yang belum menjalani kehidupan ini dengan sepenuhnya.
Komentar
Posting Komentar