Cerita Bli #28 - Mimpi Hitam itu, Memberikanku Sudut Pandang Baru Tentang Arti Kejujuran

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan menyukai sebuah band Jepang bernama Kuroyume (黒夢). Sama seperti band-band Jepang lain yang aku idolakan, Kuroyume juga adalah sebuah band visual kei. Dan sama seperti beberapa band visual kei lainnya, dari informasi yang aku baca, Kuroyume tidak pernah mengatakan bahwa mereka adalah sebuah band visual kei. Tampilan visual mereka murni sebagai bentuk ekspresi diri. 

Meskipun begitu, perjalanan musik Jepang tetap menganggap Kuroyume pernah menjadi bagian dari skena visual kei itu sendiri, alasannya sebenarnya sederhana, karena Kuroyume memenuhi kriteria untuk dilabeli sebagai visual kei. Yang luar biasa adalah, Kuroyume itu sendiri ternyata menjadi salah satu pelopor visual kei "generasi ke-2". 

Aku sebagai penggemar sebenarnya tidak menyangka Kuroyume berjalan sejauh itu. Karena, aku tidak pernah mendengar mereka sebelumnya. Aku mulai mengenal skena visual kei sekitar 12 tahun yang lalu. Sekarang adalah tahun 2025, dan aku mengetahui visual kei di tahun 2013, dari sebuah band bernama Nightmare. Sepanjang waktu itu aku tidak pernah mendengar nama Kuroyume, sama sekali. 

Karena itulah aku sebenarnya "meremehkan" Kuroyume. Menurutku mereka kurang terkenal. Aku pertama kali tau soal band ini dari postingan blog yang terbit di tahun 2009, yang membahas tentang 20 band visual kei terbaik. Itu memang postingan blog pribadi, bukan dari media resmi. Namun, cukup untuk memberikanku refrensi, yang pada saat itu sedang "jenuh", dan ingin menelusuri genre musik yang baru. 

Di daftar itu, Kuroyume masuk di 10 besar. Bahkan, dua band favoritku pada waktu itu, yaitu The GazettE dan Nightmare tidak masuk. Padahal dua band ini sangat bagus, setidaknya menurutku. Sementara itu Kuroyume berada di peringkat ke-8.

Aku jadi sadar. Ada banyak band yang jauh lebih baik, daripada yang terbaik itu sendiri. Aku kemudian mengeksplorasi band-band yang baru aku ketahui melalui daftar tersebut. Aku membaca setiap deskripsinya, dan jika aku tertarik, aku langsung membuka YouTube untuk me-review lagu-lagu mereka. Dari daftar tersebut, aku mengeksplorasi beberapa band, yaitu MUCC, Kuroyume, Plastic Tree, D'espairsray, dan Pierrot. 

Aku mendengar mereka semua, menelusuri album ke-1, kemudian ke-2 dan ada juga bahkan sampai yang ke-3. Dari lima band tersebut, aku merasakan sebuah kejujuran dari Kuroyume (黒夢). Kuroyume memberikan sudut pandang baru bagiku soal musik, yaitu kejujuran. 

Jadi, jujur yang seperti apakah itu? Baik, mungkin ada yang tidak setuju soal ini, karena musik itu sangat dipengaruhi selera dan lingkungan. Selera masing-masing orang itu beragam, namun itulah poin yang unik. Dari pengamatan-ku, Kuroyume, dalam sebagian besar albumnya, membawa suatu konsep yang aku sebut sebagai "mentah". Sepanjang perjalanan band-nya, Kuroyume akhirnya tumbuh sebagai duo vokalis-bassist, yang dilengkapi dengan musisi pendukung saat live

Untuk Kuroyume sendiri, aku mulai berkenalan dengan mereka melalui penampilan live mereka di Shinjuku Loft, pada 31 Oktober 1997. Aku menyaksikan itu melalui YouTube. Ketika Kiyoharu (aku pada saat itu belum tau namanya) diperlihatkan memasuki panggung, aku langsung berpikir, 

"Wah, vokalisnya ganteng banget. Dia keren, ekspresinya kuat. Ada nuansa berandal, tapi manis."

Di tahun 1997, memang Kuroyume telah "menanggalkan" riasan visual kei-nya. Pada penampilan di Shinjuku Loft itu, mereka tampil dengan tampilan busana sangat biasa. Bahkan Kiyoharu tidak memakai atasan sama sekali. Dan itu sangat, jujur. 

Setelah itu, aku mendengar lagu demi lagu yang mereka bawakan. Penampilan mereka saat itu bisa dibilang sangat "mentah", termasuk lagu-lagunya. Dalam artian, lagu-lagu mereka tidak dipoles sedemikian rupa, mereka membiarkan itu mengalir apa adanya, seperti apa yang seharusnya. Dan itu sangat, jujur. 

Aku kira itu hanya terjadi untuk live-nya saja, namun, ketika aku mendengarkan versi albumnya, ternyata sound-nya sama. Bukan berarti mereka tidak memoles lagu mereka. Mereka tentu memoles, hanya saja, aku bisa merasakan bahwa mereka mencoba mempertahankan output aslinya, apa adanya. Itu memang karakter mereka. Bukan berarti mereka sengaja melakukan itu, melainkan karena mereka memang perlu melakukan itu. Itu semua demi idealisme dan visi mereka. Dan itu sangat, jujur.

Itu berlaku untuk seluruh instrumen, termasuk vokal. Mendengar vokal Kiyoharu, aku jadi teringat dengan Kyo dari band Dir en Grey. Apa persamaan mereka berdua? Dari pengamatan-ku, mereka berdua memberikan sudut pandang baru, bahwa suara yang merdu, tidaklah harus sesuai dengan standar suara merdu yang ditetapkan secara umum. Atau, masing-masing orang memiliki cara sendiri untuk bernyanyi. Setiap orang memiliki suara merdu mereka masing-masing.

Yang terpenting dari kasus ini adalah, Kiyoharu dan Kyo membuktikan secara nyata, sebuah kalimat yang sering dikatakan guru vokal, yaitu, setiap orang memiliki suara yang unik. Bernyanyi-lah dengan cara suara kita sendiri bernyanyi. Dan itu sangat, jujur. 

Kemudian, belakangan aku mengetahui kalau Kuroyume ternyata menjadi salah satu inspirasi besar bagi Dir en Grey. Aku mengerti hal ini. Karena hanya dengan melihat Kuroyume dari YouTube saja, aku bisa merasakan keterhubungan dan kagum dengan mereka.

Mungkin tidak semua orang menyukai konsep musik yang Kuroyume bawakan. Musik mereka memang benar-benar mentah. Musik seperti itu memang terasa mudah untuk dibuat. 

Tapi, apakah setiap band bisa membuat musik seperti itu? Aku rasa tidak. 

Lalu, jika suatu band kemudian berhasil membuat musik seperti apa yang Kuroyume bawakan, apakah kemudian akan berhasil diterima masyarakat? Menurutku belum tentu juga. 

Perlu jiwa dan rasa yang dituangkan dalam membuat karya. Tidak semata-mata hanya meniru apa yang orang lain kerjakan. Dan semua itu memerlukan sebuah kejujuran.

Kita beralih sebentar ke negeri kita, yaitu Indonesia. Jauh sebelum aku mengenal Kuroyume, aku sudah merasa tertarik dengan kejujuran dari lagu yang "mentah". Itu justru bukan dari band rock, melainkan dari Eros Djarot. 

Apakah kalian pernah mendengar nama sosok ini? Dia adalah seorang produser musik, politisi, dan juga sutradara. Sebagai produser musik, salah satu karyanya yang paling monumental, dan pastinya kalian tau juga adalah, album original soundtrack film "Badai Pasti Berlalu". 

Eros Djarot diminta oleh sutradara film itu, yaitu Teguh Karya, untuk membuat soundtrack film tersebut. Eros Djarot kemudian menggandeng Chrisye dan Berlian Hutauruk untuk menjadi penyanyi pada proyek musik itu. Kemudian, Yockie Suryoprayogo, figur yang paling dikenal sebagai Keyboardist dari band Godbless, ditunjuk sebagai penata musiknya. 

Ada dua versi album musik "Badai Pasti Berlalu". Versi pertama dan original adalah yang sedang kita bahas ini. Kemudian versi yang kedua adalah, versi baru yang digubah oleh Erwin Gutawa, dan menjadi album solo Chrisye. 

Jika ditanya, versi mana yang lebih aku sukai, aku akan menjawab versi yang original. Sebenarnya butuh waktu cukup lama bagiku untuk memantapkan hati akan pilihan ini. Tapi, kemudian aku memilih, aku lebih menyukai versi yang original. 

Kenapa? Berbeda dengan versi gubahan Erwin Gutawa, versi original yang dijadikan soundtrack "Badai Pasti Berlalu", benar-benar menampilkan nuansa alami dan kejujuran. Ketika pertama kali aku mendengarkan album ini melalui YouTube, aku kaget, dan berpikir, 

"Ini beneran album musik? Ini beneran album musik yang ada di peringkat 1 album terbaik Indonesia sepanjang masa itu? Kok kayak rekaman belum jadi ya? Mentah banget!"

Benar, itu adalah respon awalku. Namun, ketika aku mendengar lagu demi lagu, hingga album itu selesai, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Album itu sangat jujur. Seolah mereka menampilkan apa yang benar-benar ada. 

Ketika aku mendengar podcast Eros Djarot di media YouTube Shindu's Scoop dan Rian Ekky Pradipta (D'Masiv), beliau menjelaskan bahwa proses rekaman album "Badai Pasti Berlalu" itu memang terkendala waktu dan peralatan. Yockie Suryoprayogo, sang penata musik bahkan menggunakan keyboard yang rusak-rusakan. Ada juga di suatu lagu, bagian vokal Chrisye fals. Chrisye meminta untuk mengulang rekaman itu, namun Eros Djarot menolaknya, dan memilih untuk tetap menggunakan hasil rekaman yang fals itu. Karena itulah hasil yang jujur. 

Eros Djarot menyebut itu sebagai, 

"Ilmu sedikit-sedikit tapi kenyang."

Kuroyume khususnya, dan album original "Badai Pasti Berlalu" benar-benar memberikanku pandangan baru soal apa arti kejujuran dalam bermusik. Tapi, apakah untuk jujur, setiap musik harus dibiarkan begitu saja tanpa dipoles? Tentu tidak, bukan itu poinnya. Yang ditekankan di sini adalah, jujurlah dalam menuangkan jiwa ke dalam karya kita. Biarkan kejujuran itu yang menuntun kita. 

Komentar