Cerita Bli #32 - Cermin yang Membalik : Refleksi di Tengah Kelangkaan
![]() |
| ".....Pada dasarnya, kita semua sama." |
Hai.
Aku akhir-akhir ini membaca banyak tentang albinisme. Seperti yang kita tau, albinisme atau albino adalah kelainan genetik yang termasuk langka, yang menyebabkan pengidapnya memiliki warna kulit dan rambut yang putih pucat. Penyebabnya terletak pada pigmen yang disebut melanin.
Pengidap albino, hanya memproduksi sedikit, atau bahkan tidak sama sekali pigmen melanin. Padahal, pigmen melanin inilah yang berfungsi memberikan warna bagi kulit, rambut, hingga mata. Pigmen Melanin juga berfungsi memberikan perlindungan bagi sel-sel kulit terhadap paparan sinar UV matahari.
Kondisi yang dialami pengidap albino itulah, yang menyebabkan warna kulit dan rambutnya cenderung putih dan terang. Sementara itu, matanya akan menjadi lebih sensitif terhadap cahaya, karena kurangnya pigmen melanin untuk membantu menyaring cahaya. Hal ini juga terjadi pada kulit seorang albino, yang lebih sensitif terhadap paparan sinar matahari, karena tidak ada, atau kurangnya pigmen melanin yang membantu melindungi kulit dari sinar UV.
Awalnya, Aku Ingin Tau Lebih Alam Soal Ini, Karena...
Keingin tahuanku terhadap albinisme, terjadi karena beberapa hari yang lalu, aku melihat seorang pengidap vitiligo di mini market. Dia adalah seorang wanita, yang sepertinya berusia hampir 40 tahunan. Ketika aku akan keluar dari mini market, aku melihat dia berjalan masuk. Aku melirik ke arahnya, aku kira dia sedang memakai topeng atau masker. Setelah aku melihatnya sekali lagi, ternyata tidak...sama sekali tidak. Aku sadar, itu bukan topeng atau masker. Itu benar-benar bercak putih, mengelilingi bagian mulut hingga hidungnya. Ada juga sedikit bercak putih di dekat matanya.
Perlu waktu beberapa saat bagiku, untuk memproses apa yang baru saja aku lihat, "Dia ini sedang menggunakan salep, atau krim di wajahnya ya? Tidak, itu pasti kondisi kelainan kulit. Ya, dia mengalami kondisi kelainan kulit."
Aku segera sadar, kemungkinan besar itu adalah kondisi kelainan kulit. Sesampainya di rumah, aku langsung mencari tau di internet, dan aku dapatkan informasi yang jelas, kalau kondisi kulit wanita yang aku lihat di minimarket tadi bernama "Vitiligo". Membaca istilah ini, aku jadi teringat dengan artis ternama, Michael Jackson.
Aku Pertama Kali Membaca Istilah "Vitiligo", dari Sebuah Artikel Tentang Michael Jackson
Ini bukan pertama kalinya aku membaca soal vitiligo. Aku sering sekali bertemu dengan istilah ini setiap kali aku membaca kisah tentang Michael Jackson. Ya, pasca beliau wafat, telah dikonfirmasi secara medis kalau dia memang mengidap vitiligo. Dari yang aku baca, kondisi kulit inilah yang membuat Michael Jackson pada akhirnya memutihkan kulitnya secara merata, agar bercak vitiligo itu menjadi tak kasat mata.
Mungkin, kita bisa duga kalau vitiligo yang dialami Michael Jackson cukup masif, karena dia sampai memutihkan keseluruhan tubuhnya. Awalnya, aku meremehkan pernyataan Michael Jackson tersebut. Saat aku membaca kalau dia memutihkan kulitnya karena vitiligo, aku yakin itu hanyalah alasan untuknya mengelak. Aku berpikir,
"Alasan soal vitiligo itu bualan. Dia pasti dengan sengaja memutihkan kulitnya, untuk mendapatkan penampilan visual yang ideal baginya. Vitiligo hanya alasan omong kosong. Memangnya, vitiligo bisa sampai membuat seseorang berpikir, untuk memutihkan seluruh bagian tubuhnya?"
Selama hidupku ini, seperti itulah pandanganku terhadap setiap pernyataan Michael Jackson, tentang setiap operasi pada tubuhnya. Tapi, setelah aku melihat seorang pengidap vitiligo secara langsung, aku jadi mengerti betapa menyiksanya itu secara psikologis.
Kini aku mengerti, menjadi masuk akal bagi setiap orang, atau dalam cerita tadi yaitu Michael Jackson, untuk melakukan segala cara, agar penampilan mereka bisa terlihat normal-normal saja. Bagaimana pun caranya, mereka pasti ingin tampil normal seperti sedia kala.
Namun sayangnya, baik albino dan vitiligo didiagnosa adalah sebuah kondisi permanen.
Tentang Vitiligo dan Albino...
Vitiligo ini memiliki mekanisme yang hampir mirip dengan albinisme, atau albino. Mekanismenya adalah, kurang atau tidak adanya pigmen melanin. Perbedaannya adalah, pada albino, kekurangan atau ketidak adaan pigmen melanin itu memang terjadi secara genetik sebelum mereka lahir, dan itu merata di seluruh tubuh.
Sementara vitiligo, mekanismenya adalah, tanpa diduga pigmen melanin dalam tubuhnya "menghilang". Sistem kekebalan tubuh secara keliru malah menyerang sel melanosit, yang merupakan sel penghasil pigmen melanin. Karena itulah, warna kulit pada beberapa area tubuh tiba-tiba memutih pucat, karena pigmen melanin di area itu tidak terproduksi lagi, setelah melanositnya dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh.
Pada saat aku melihat wanita dengan vitiligo itu, jujur aku merasa agak ngeri. Aku langsung berpikir,
"Apakah itu menyakitkan baginya?"
"Bagaimana dia bisa menerima keadaan tubuhnya saat ini?"
"Apakah orang-orang di sekitarnya bisa menerimanya sepenuhnya?"
"Apakah dia dan orang-orang di sekitarnya sudah mengenali bahwa itu bernama kondisi vitiligo? Dan sama sekali bukan karena kurangnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri"
Mereka Tidak Aneh Sama Sekali! Hanya Kitalah yang Belum Terbiasa
Jujur, kalau aku berhadapan dengan seorang yang mengidap kondisi Vitiligo, aku pasti akan ngeri pada awalnya. Tapi aku tau, kalau aku tidak boleh seperti itu. Aku harus bisa menerima mereka, seperti aku menerima orang pada umumnya. Karena, apapun itu, kita semua tetap sama kan?
Kalau kita melihat seorang yang albino atau vitiligo, kita akan kaget dan ngeri pada awalnya. Tapi aku memiliki pandangan, bahwa kita merasa seperti itu, karena otak kita memang belum terbiasa melihat orang-orang yang seperti itu. Aku barusan menggunakan istilah "belum biasa" ya, bukan "tidak biasa", karena kondisi kulit seperti itu terbilang langka, kita mungkin akan sulit untuk bisa sepenuhnya terbiasa akan hal itu. Namun dengan kita yang semakin memahami kondisi mereka, dan saling mengerti, kita pasti bisa menjalani kehidupan seperti yang seharusnya.
Pada Dasarnya, Kita Semua Sama...
Mau coba membalik situasinya? Ayo, kita akan coba.
Anggap saja, kita hidup dalam dunia di mana albino, vitiligo, dan kondisi kulit langka lainnya memang adalah keadaan normal tubuh manusia. Itu adalah kondisi manusia normal. Semua orang, secara umum adalah seorang yang seperti itu.
Dalam kondisi seperti itu, bayangkan kalau kita melihat ada orang dengan keadaan tubuh "normal", dengan rambut hitam, kulit sawo matang, dan pupil mata berwarna hitam. Aku yakin, kita pasti akan ngeri dan kaget melihatnya. Karena kita belum terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Kita pasti menganggap mereka aneh.
Jadi yang ingin aku sampaikan sebagai penutup adalah, seorang pengidap kondisi kulit langka, terlihat aneh bagi kita, bukan karena mereka memang aneh, bukan sama sekali. Melainkan, kita menganggap mereka aneh karena otak kita memang tidak terbiasa dengan pemandangan orang seperti itu.
Mereka itu sebenarnya sama persis seperti kita. Mereka tampak "aneh" bukan karena memang aneh. Mereka "aneh", karena otak kita memang tidak terbiasa melihat figur mereka.
Aku katakan sekali lagi sebagai penutup. Pada dasarnya, kita semua sama.
Catatan :
Gambar ilustrasi sampul pada postingan ini, dibuat dengan teknologi AI. Menggunakan aplikasi WOMBO Dream - AI Art Generator. Terimakasih.

Komentar
Posting Komentar