Hobi Bli #4 - "Jealousy", Karya Monumental X Japan yang Krisis Esensi dan Jati Diri

"Apa-apaan ini? Aku benar-benar belum mendapatkan esensi/tulang
punggung lagu ini, padahal aku sudah sampai di pertengahan album!? Ini
sudah track ke-5!!!"
"Apakah album ke-3 X Japan, yaitu "Jealousy", dapat dikatakan sebagai album terburuk mereka?"
Pertanyaan itulah yang membuatku menuangkan pemikiranku mengenai album itu, ke dalam tulisan ini.
Aku mendengar suara vokal Toshi di album "Jealousy" ini, sepertinya dia sedang lelah. Vokalnya terdengar agak ringan dan kurang kuat. Aku seperti tidak melihat Toshi di era-era sebelumnya.
Tapi saat Toshi tampil secara live, membawakan lagu-lagu dalam album "Jealousy", semuanya menjadi berubah drastis. Toshi tetaplah Toshi yang benar-benar kuat, liar, dan teknik vokal yang luar biasa. Contohnya saat konser Super Live nya dengan orkestra di NHK Hall, tahun 1992. Tapi, bagaimana pun juga, aku tetap merasa ada yang kurang dari album "Jealousy" ini.
Track 1 & 2 : "A Piano String in Es Dur" & "Silent Jealousy"
Ini adalah dua track yang seolah ditulis untuk melengkapi satu sama lain. "A Piano String in Es Dur", dapat dikatakan sebagai 'overture' dari album ini. Melanjutkan tradisi dari 2 album sebelumnya, yang juga memiliki 'overture'. Dalam "Vanishing Vision" (1988) kita memiliki "Dear Loser", dan dalam "Blue Blood" (1989), kita memiliki "Prologue (~World Anthem). Uniknya, sepanjang yang aku tau, "Jealousy" adalah album terakhir X Japan yang menggunakan 'overture' sebagai pembuka album.
Track pertama, sekaligus 'overture', "A Piano Strings in Es Dur", kemudian dilanjutkan dengan track selanjutnya, yaitu "Silent Jealousy", adalah momen yang luar biasa dalam album ini. Suatu pembukaan album yang luar biasa. Kita seolah siap memasuki "gerbang" simfoni punk metal ini.
Baik, "A Piano String in Es Dur" dan "Silent Jealousy" adalah karya lagu yang kaya akan melodi, sangat dalam dan estetik-melodius. Tapi, track selanjutnya adalah sebuah lagu berjudul, "Miscast", yang sayangnya, dari penilaianku pribadi, lagu ini tidak begitu kaya akan variasi progresi chord.
Track 3 : "Miscast"
"Miscast" itu karya Hideto Matsumoto ya, sosok yang menulis juga lagu "Sadistic Desire" pada album debut mereka "Vanishing Vision" (1988). Baik "Miscast" dan "Sadistic Desire" memiliki kemiripan dalam komposisi lagunya. Kedua lagu itu memang memiliki sisi melodius, tapi struktur lagunya sebagian besar terdiri dari progresi chord tunggal. "Sadistic Desire" dalam album perdana mereka memiliki lebih banyak 'petualangan' struktur lagu daripada "Miscast".
Sebenarnya "Miscast" pun seperti itu, memiliki 'petualangan' struktur lagu khas Hideto Matsumoto. Sayangnya, tidak ada yang benar-benar monumental dalam lagu ini. "Miscast" benar-benar jomplang dari "A Piano String in Es Dur" dan "Silent Jealousy" di track sebelumnya. "Miscast" sangat tertimpang jauh.
Sebagai pendengar yang baru menyelesaikan "Silent Jealousy" yang melodius dan megah, dan setelah itu dilanjutkan oleh "Miscast", rasanya seperti ada suatu perasaan yang tak tersampaikan/tidak terpenuhi di otak kita.
Track 4 : "Desperate Angel"
Setelah "Miscast" usai. Track selanjutnya, atau track ke-4 adalah "Desperate Angel", yang merupakan karya dari Taiji Sawada, sang bassist.
Baik, aku ulangi kembali runtutannya ya, awalnya kita disambut dengan "A Piano String in Es Dur", dan "Silent Jealousy", yang sangat artistik, emosional, dan melodius sebagai pembuka album. Setelah itu kita menuju "Miscast" yang memiliki sisi melodius yang minim, yang sangat timpang dari dua lagu sebelumnya. Kemudian kita bertemu dengan "Desperate Angel", yang kini genrenya lebih mengarah ke glam metal atau hard rock khas Amerika.
Ya, benar, lagu ini benar-benar bernuansa Barat. Lagu X Japan lainnya yang bernuansa sangat Barat adalah "20th Century Boy", yang terdengar sangat rock n roll.
Tak heran, yang menulis lagu "Desperate Angel" ini.adalah Taiji Sawada, yang memang terlihat sekali terinspirasi banyak oleh band-band glam metal Barat, khususnya Amerika. Tapi anehnya, Taiji Sawada benar-benar bernuansa Amerika/Barat dalam lagu ini. Padahal lagu-lagu yang ia tulis sebelumnya, seperti "Phantom of Guilt" di album "Vanishing Vision" (1988) masih memiliki nuansa Jepang yang mentah.
Hadirnya lagu bernuansa glam metal dan hard rock khas Amerika ini, lagi-lagi membuat efek kejut bagiku. Aku bagaikan bertanya-tanya,
"Arah album ini sebenarnya kemana?"
Aku menanyakan hal itu di kepalaku, karena tiap perpindahan track setelah "Silent Jealousy", kok genrenya berubah-ubah. Aku seperti tak melihat X Japan yang aku kenal di dua album sebelumnya. Jati diri mereka sangat dipertanyakan, bahkan kita baru sampai di track nomor 4 ini.
Track 5 : "White Wind from Mr. Martin ~Pata's Nap~"
Lalu bagaimana dengan track nomor 5? Itu adalah karya Hideto Matsumoto, namun ada juga yang menyebut bahwa ini karya Pata (Tomoaki Ishizuka). Track ke-5 ini berjudul, "White Wind from Mr. Martin ~Pata's Nap~", sebuah instrumental gitar yang sangat mendayu-dayu.
Aku berpikir, "Apa-apaan ini? Aku benar-benar belum mendapatkan esensi/tulang punggung lagu ini, padahal aku sudah sampai di pertengahan album!? Ini sudah track ke-5!!!"
Aku selalu bertanya, esensi , esensi, dan esensi album ini. Karena aku memang belum mendapatkannya.
Track 6 : "Voiceless Screaming"
Kemudian, di track ke-6, kita diperdengarkan sebuah komposisi akustik disertai strings, sebuah lagu yang berjudul, "Voiceless Screaming", yang juga ditulis oleh Taiji Sawada. Lagu ini menggunakan bahasa Inggris secara penuh. Selain itu, lagi-lagi nuansa lagu oleh Taiji Sawada ini terdengar sangat Barat sekali, sangat. Aku seperti mendengar "Stairway to Heaven" oleh Led Zeppelin.
Jujur, "Voiceless Screaming" ini salah satu lagu paling indah di album "Jealousy", sangat akustik-melodius, dan menenangkan. Sayangnya, nuansanya benar-benar Barat sekali, seperti "Desperate Angel" dan "20th Century Boy"-nya mereka.
Tapi, dengan hadirnya lagu akustik-strings ini, aku lagi-lagi belum bisa menangkap esensi album ini. Jujur, album ini terkesan 'campur-campur'.
Track 7 : "Stab Me in the Back"
Lanjut di track ke-7, kita disambut dengan karya bernuansa speed metal murni dari X Japan, sebuah lagu yang berjudul "Stab Me in the Back". Kenapa lagu ini sangat bernuansa speed metal? Tentu karena lagu ini adalah lagu era indie mereka, di tahun 80an.
Aku tak mengerti, kenapa album ini tidak mereka masukkan di album "Vanishing Vision" (1988) mereka ya? Lagu ini lebih cocok berada di sana. Ditaruh dalam album "Blue Blood" (1989) juga cocok, karena album kedua mereka tersebut memang masih bernuansa Speed metal murni mentah khas X Japan. Lagu ini dulu ditulis oleh Yoshiki.
Hadirnya "Stab Me in the Back" di album "Jealousy" (1991) ini, malah membuatku bingung. Kenapa? Karena dia tidak relevan diletakkan di album ini. Yoshiki sudah berevolusi dengan simfoni metalnya yang ditandai dengan lahirnya "Silent Jealousy", yang mana kelak di tahun 1992 juga akan melahirkan konsep awal dari "Art of Life". Hadirnya "Stab Me in the Back" yang sangat speed metal murni di album ini, malah semakin membuat semua ini nampak sangat anomali.
"Wah..."Stab Me in the Back"? Kamu kenapa ada di sini??? 'Teman-temanmu' sudah rilis 2-3 tahun sebelumnya..." Begitulah pikirku saat melihat ada lagu ini di album "Jealousy".
Track 8 : "Love Replica"
Di track ke-8 kita dihadirkan sebuah instrumental gitar elektrik legendaris oleh Hideto Matsumoto, yang berjudul "Love Replica". Lagi-lagi kita memiliki musik instrumental di sini, setelah tadi ada "White Wind from Mr. Martin ~Pata's Nap~" di track ke-5 sebelumnya.
"Love Replica" ini benar-benar legendaris dan sangat-sangat Hideto Matsumoto. Kenapa? Karena, pada dasarnya lagu "Love Replica" ini adalah lagu yang ditulis Hideto Matsumoto saat dia masih bergabung di band lamanya sebelum X Japan, yaitu, sebuah band pemelopor Visual Kei juga, yang bernama Yokosuka Saver Tiger.
Jadi, pada dasarnya, "Love Replica" adalah lagu Yokosuka Saver Tiger. Hal ini karena Hideto Matsumoto pernah di dalam sesi menggarap lagu instrumental ini bersama anggota Yokosuka Saver Tiger lainnya, yang bernama Rem. Tapi pada akhirnya Yokosuka Saver Tiger memang belum pernah merilis karya resmi apapun selama masa aktif mereka. Jadi, ide "Love Replica" ini pun pada akhirnya dituangkan oleh Hideto Matsumoto bersama band barunya, X Japan.
Track 9 : "Joker"
Selanjutnya, di track ke-9, kita kembali bertemu dengan karya Hideto Matsumoto lainnya yang berjudul "Joker". Sama seperti lagu Hideto Matsumoto sebelumnya dalam album ini di track ke-3, yaitu "Miscast", lagu "Joker" ini juga tidak begitu artistik-estetik dengan progresi chord. "Miscast" dan "Joker" memiliki formula yang bisa dibilang identik. Aku masih belum menemukan alasan, kenapa aku harus mencintai dan menikmati "Joker" ini.
Track 10 : "Say Anything"
Aku sudah menikmati hingga di track ke-9, dengan masih merasakan kehampaan. Tanpa terasa telah sampai di track penutup dalam album ini, yaitu track ke-10, yang berjudul "Say Anything" oleh Yoshiki. Lagu ini bernuansa balada, mirip seperti "Endless Rain".
Akhirnya, setelah sekian track terlewati, kita kembali bertemu dengan track yang ditulis oleh Yoshiki. Track yang ditulis Yoshiki adalah track 1, 2, 7 (tapi ini lagu lawas), dan 10. Jika kita kecualikan track ke-7, "Stab Me in the Back" karena itu lagu lawas, jadi rentang lagu baru Yoshiki yang kita nikmati dalam lagu ini berjarak track sangat jauh, yaitu 1,2 ----- kemudian akhirnya track terakhir di nomor 10. Rentang yang sangat jauh.
Hal inilah mungkin, yang menyebabkan kenapa album ini terasa kurang memiliki identitasnya. Hal ini karena lagu Yoshiki benar-benar hadir di pembuka dan penutup saja.
Bukan berarti lagu anggota-anggota lainnya buruk, tidak. Aku menyukai lagu-lagu mereka. Bahkan aku berkata bukan, kalau "Voiceless Screaming" oleh Taiji Sawada adalah salah satu lagu terindah di album ini. Aku bahkan tak menyangka seorang "nakal" seperti Taiji bisa menciptakan lagu selembut itu.
Ini harusnya menjadi titik kematangan mereka, bukannya krisis esensi dan jati diri
Setelah menikmati 10 track penuh dalam album "Jealousy" (1991) ini, aku benar-benar belum bisa mendapatkan esensi album ini. Album ini seperti album "campur-campur" dengan berbagai genre rock dan metal.
Maksudku, ini sudah album ke-3 mereka bukan? Dan mereka sudah berkarir lebih dari satu dekade pada saat itu. Masa sih, mereka malah "konslet jati diri" di album ke-3 mereka. Album yang seharusnya adalah titik kematangan mereka.
Sebenarnya, Yoshiki sudah membuat suatu revolusi besar melalui track utama di album ini, yaitu "Silent Jealousy". Aku mengira track-track selanjutnya di album ini, akan memiliki nuansa yang sama atau setidaknya beririsan, dengan "Silent Jealousy" tersebut. Tapi nyatanya, adalah lagu-lagu dengan genre yang terlalu beragam, sama sekali tidak mirip dengan kompleksitas, dan sisi kedalaman emosional dari "Silent Jealousy", jauh sekali.
Hadirnya "Say Anything" yang juga merupakan karya Yoshiki sebagai penutup dalam album ini, sayangnya tidak bisa menyelamatkan keseluruhan dari album ini. Malah, "Say Anything" seolah berada dalam bayang-bayang "Endless Rain", yang hadir dalam album sebelumnya.
Malah, seluruh masalah album ini yang telah aku sampaikan sejak awal, seperti memang nyata adanya. Coba kita tapak tilas kembali, apakah kalian sadar, bahwa, selain memang pada konser yang berkaitan dengan album "Jealousy", ada minim sekali lagu-lagu dalam album "Jealousy" yang dibawakan oleh X Japan dalam konser mereka? Bilapun dibawakan, itu pasti lagu-lagu karya Yoshiki.
Hal ini dapat kita lihat dalam konser X Japan bersama Orkestra di NHK Hall tahun 1922. Di antara track list, mereka memang membawakan 2 lagu dari album "Jealousy", yaitu "Silent Jealousy" dan "Say Anything", dan dua lagu itu ditulis oleh Yoshiki.
Bahkan, konser perpisahan terakhir X Japan, "The Last Live" pada Desember 1997 di Tokyo Dome, hanya ada satu lagu dalam album "Jealousy" yang ditampilkan pada saat itu, "Say Anything". Tapi itupun dibawakan melalui rekaman audio, tidak secara penampilan band live.
"Jealousy" adalah album yang baik secara produksi dan keberagaman karya. Namun album ini belum dapat menampilkan esensi dari jati dirinya.
Komentar
Posting Komentar