Cerita Bli #36 - Aku Normal, Aku Menjalani Hidup, dan Aku Bertumbuh

Aku tidak mengerti, kenapa kalau konseling dengan penekun pengobatan spiritual, pasti diagnosanya adalah,

"..ada aura negatif."

"..berkaitan dengan kelahiran."

"..harus ada ritual pembersihan."

Kalau semua diagnosanya seperti itu, lalu apa fungsi ilmu pengetahuan modern?

Maksudku, kalau kita sedang bingung, pikiran buntu, mengalami demotivasi, setiap keputusan ternyata keliru, dan lain-lain, itu tidak selalu karena hal-hal supranatural dan spiritual.

Dalam hal ini, spiritual (bukan supranatural) tentu penting, jelas. Tapi selebihnya, ada pendekatan lain yg lebih ilmiah untuk mengatasi permasalahan itu.

Sebenarnya hal itu terjadi padaku. Entah berapa kali, orang tuakku sudah mengajakku ke ahli spiritual untuk berobat.

Sebenarnya, alih-alih merasa tercerahkan, aku merasa sedih tentang hal ini. Mengapa? Karena aku ditempatkan sebagai seorang yang "sakit" atau "gila". Ya, aku adalah pasien dalam hal ini. Padahal, aku baik-baik saja.

Tapi tentu ada alasan kenapa orang tuaku melakukan itu. Aku tau, orang tuaki khawatir padaku. Tapi, tolonglah mengerti. Aku tau, kalau aku tidak mungkin bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada kalian. Jadi, mungkin memang aku lah yang benar-benar harus membuktikan semuanya.

Yang aku tidak sukai adalah, apakah sang ahli spiritual itu benar-benar mengetahui permasalahanku yang kompleks?

Mereka bertanya hal ini padaku, 

"Apakah tidurmu nyenyak?"

Aku berpikir, pertanyaan apa itu? Kalau dia hanya mencari jawaban ya dan tidak, ini cukup sulit bagiku. Karena, ya, tidurku sangat nyenyak. Saking nyenyaknya, aku ingin terus tidur kalau ada waktu senggang. 

Tapi...di sisi lain, aku juga bisa dibilang sulit tidur. Aku kesulitan memulai untuk tidur. Tapi, itu bukan karena adanya masalah kejiwaan, ataupun konfrontasi mistis. Penyebabnya adalah, karena aku orang yang penakut.

Ya aku memang penakut. Karena aku terlalu waspada, aku jadi sering tidur di atas pukul 2 pagi. Tapi, apakah orang penakut, maka penanganannya adalah, harus melalui ritual pembersihan masif yang kemudian menelan biaya jutaan? Tidak bukan?

Lagipula aku sudah menemukan cara penyelesaian masalah untuk ini. Yaitu, dengan memutar radio atau podcast, sehingga ada suara-suara di kamarku, dan aku menjadi tidak takut lagi. Sederhana bukan?

Kemudian pertanyaan selanjutnya yang dia berikan padaku adalah, 

"Apakah kamu bisa fokus?"

Fokus? Ya tentu aku bisa fokus. Namun, aku bisa benar-benar sepenuhnya fokus, pada hal-hal yang sudah, atau pada akhirnya aku pahami. Aku juga bisa sangat-sangat fokus ke hal yang memang aku minati, contohnya ya seperti menulis ini. 

Kalau aku tidak totalitas dan kurang fokus, dalam melakukan suatu hal, apakah solusinya adalah menjelajahi setiap tempat suci di Bali, kemudian melakukan ritual pembersihan, didoakan sambil orang tuaku menangis-nangis di sampingku? 

Belum lagi ada "sentuhan fisik pengobatan spiritual" yang sangat menyakitkan. Apa-apaan ini? Dan ya, itu benar-benar menyakitkan secara fisik. Dadaku dicubit-cubit, kemudian kulit pundakku dipelintir, bagian tubuhku yang lain ditekan, dan ditusuk-tusuk, dengan jari. Itu menyakitkan dan membuat tidak nyaman. Tapi aku bahkan tidak mengerti apa tujuannya.

Ketika aku menunjukkan reaksi sakit dari cubitan fisik yang memang menyakitkan itu, ahli spiritual itu akan bertanya sambil tersenyum, entah apa maksud senyuman itu, 

"Kenapa dik..? Pusing?"

Aku memikirkan pertanyaan itu, dan aku segera menyadari kemana topik ini akan berlanjut. Aku tentu mengiyakan, sambil menahan rasa sakitnya. Setelah itu, ahli spiritual itu kembali berkata, 

"Sakiit? Kalau gak ada 'apa-apa', tentu ini tidak sakit."

Mendengar hal itu, aku langsung tidak setuju dan berpikir, 

"HAH!??? Kalau gak ada 'apa-apa', maka sentuhan fisik itu gak bakalan terasa sakit? HEI!!! Siapapun kalau kulit dan dagingnya dicubit, dipelintir, ditekan, dan ditusuk-tusuk seperti itu pastilah akan merasa sakit woyyy. Jangankan saya, bahkan anda pun pasti akan merasakan sakit. Kalau sudah begitu, berarti anda juga dipengaruhi aura negatif, begitu???"

Belum lagi ayahku terus bertanya padaku, apakah itu terasa sakit atau tidak. Sambil menahan rasa sakit, tentu aku mengiyakan juga. Tapi aku berpikir, masa ayahku tidak bisa mengerti hanya dengan melihat ekspresi anaknya. Tentulah itu sakit, kuit dan dagingku dicubit, ditekan, dan dipelintir. Aku akan sangat kecewa kalau ayahku mengira rasa sakit itu, adalah tanda adanya aura negatif. Semua orang yang dibegitukan pasti akan merasa sakit.

Setelah itu muncullah diagnosa legendaris ahli spiritual itu, 

"...ini adalah karena adanya aura negatif."

"...ini berhubungan dengan kelahiran."

"...perlu ritual pembersihan di beberapa tempat."

Baik, kita kembali ke permasalahan utamanya, yaitu aku yang tidak totalitas dan kurang fokus melakukan suatu hal.

Ya, itu dia premisnya. Tapi...

Kenapa aku malah dicubit, dipelintir, ditusuk-tusuk, ditekan-tekan, diberikan ramuan, didoakan sampai orang tuaku menangis-nangis. Apakah hal itu bisa menyelesaikan permasalahan utamanya?

Aku ingin mengatakan, kalau aku hanya memerlukan waktu untuk memproses sesuatu. Aku memerlukan waktu untuk mewujudkan visi dan konsepku. Aku perlu waktu untuk belajar, aku perlu ruang untuk berpikir. Dan...bukan berarti aku sedang sakit jiwa atau gila. Sampai-sampai aku disebut sebagai orang sakit, atau "pasien".

Aku sempat kecewa. Aku berpikir, kenapa orang tuaku tidak berhenti saja meminta bantuan padaku, jika ada suatu masalah? Kenapa kalian meminta bantuan pada orang yang sakit jiwa dan gila? Apakah tidak lebih baik meminta bantuan dan pendapat dari orang-orang yang sehat walafiat, seperti adik-adikku misalnya.

Apakah orang yang sakit jiwa dan gila, bisa menulis seperti ini? 

Atau hal sederhana di rumah. Misalnya, gas di dapur habis, maka orang tuaku akan memintaku untuk memasang yang baru. Aku tentu akan melakukannya. Pertanyaannya, apakah orang sakit jiwa dan gila, bisa mengganti gas LPG? Kalau aku tidak sedang di rumah, maka ke siapa orang tuaku akan meminta bantuan untuk itu?

Hal sederhana lainnya di lingkup rumah, apakah orang sakit jiwa bisa merapikan kamarnya sendiri? Bagaimana dengan mencuci piring? Mencuci pakaian? Menjemur pakaian? Memasak, ya walaupun sederhana?

Atau hal yang lebih akademik. Apakah orang sakit jiwa dan gila, bisa menyelesaikan kuliah sarjananya? 

Meskipun dengan perjuangan yang sangat berat, dan hampir drop out, aku berhasil menyelesaikan pendidikan sarjanaku. Apakah berhasilnya aku lulus kuliah, karena dibantu oleh ahli spiritual itu? Kalaupun iya, aku dibantu olehnya secara tak kasat mata, kalau aku tidak memiliki keinginan untuk menyelesaikan skripsi, tugas akhir, dan jurnal ilmiah, tetap saja aku tidak akan pernah menyelesaikan pendidikan sarjanaku.

Jadi, sampai saat inipun orang tuaku masih berpikir kalau aku diselimuti aura-aura negatif. Tentu saja tidak ya, aku baik-baik saja, aku normal kok. Aku hanya ingin berhenti dianggap sebagai orang yang sakit jiwa, gila, dan butuh pengobatan spiritual.

Komentar