Hobi Bli #5 - Menelusuri Jalan Cahaya Demi Menemukan Kegelapan yang Sama

Apakah kalian tau? Malam kemarin, aku tidur ditemani dengan alunan album "NIL" The Gazette. Tapi, saat aku tidur, aku malah memimpikan lagu-lagu System of A Down. Kalau kalian belum tau, ini adalah gejala orang ganteng.

Oke, bukan itu yang ingin aku bahas, tapi ketahuilah kalau aku tidak bohong soal itu. Kemudian, untuk The Gazette--aku merindukan band ini. Aku sudah hampir tidak pernah lagi mendengarkan album-album mereka. Tapi, aku sadari kalau akhir-akhir ini aku sering menyanyikan lagu mereka sehari-hari. 

Aku jadi berpikir, "... mungkin ini saatnya aku kembali mendengarkan album-album mereka?"

Ya, inilah saatnya, kembali menelusuri dunia mereka yang telah lama aku rindukan.

Awalnya aku memang sudah mendengarkan album-album The Gazette, dari awal hingga "Mass"--yang sayangnya, antara album "Ninth" (2018) dan "MASS" (2021) ini aku hanya merasakan sedikit perbedaan.

Semua ini terjadi karena aku mencari sesuatu

Setelah itu, aku mengeksplorasi X Japan. Kalau X Japan ini, aku melihatnya seperti komposisi musik klasik, yang digubah menjadi speed metal, metal, dan rock. Aku bisa merasakan bagaimana X Japan, atau dalam hal ini, Yoshiki, dalam membuat lagu.

Aku merasa X Japan dengan The Gazette ini sangat berbeda. Aku ingin mengeksplorasi X Japan sedalam mungkin, tapi aku tetap memerlukan apa yang The Gazette miliki. Karena akar X Japan yang sangat organik, memanfaatkan instrumen organik, seperti gitar, bass, drum, dan piano, khas seperti band-band era 80-an. Selain itu, genre mereka pun organik, dalam hal ini X Japan adalah speed metal, metal, dan rock, menurutku kurang variatif--terlepas dari betapa mahakarya mereka yang sangat aku hormati.

Aku sebenarnya senang dengan hadirnya lagu-lagu Hideto Matsumoto, seperti, "Scars" dan juga "Drain", yang memberi warna baru selain speed metal dan balada khas Yoshiki. Kedua lagu tersebut hadir dalam album ke-5, sekaligus terakhir mereka, "Dahlia" (1966). Album ini adalah titik di mana X Japan pada akhirnya mulai mengadposi elemen-elemen 'neo', dengan penggunaan metode sampling, sound elektrnoik, dan nuansa industrial. Semua itu terangkum dalam dua lagu Hideto Matsumoto tersesbut, "Scars" dan "Drain". 

Selain konstribusi dari Hideto Matsumoto, ada juga lagu-lagu dari Taiji Sawada, sebagai penyeimbang karya-karya Yoshiki. Ciri khas Taiji Sawada adalah sound yang lebih akustik, dan ada juga kesan hard rock, dan rock n' roll. Tapi, sound lagu-lagu karya Taiji Sawada pun masih sangat organik. Jadi, aku membutuhkan lebih lagi.

Aku pun mulai mengeksplorasi setiap jalan

Akhirnya aku mencoba mendengarkan band lain yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Pertama aku mendengarkan Malice Mizer. Nah, di sini aku mendapatkan warna baru yang belum pernah aku dengarkan sebelumnya. Aku merasa seperti seorang anggota kerajaan Prancis, yang melihat para bangsawan dan pangeran mahkota sedang bermain musik. Dari sini, aku jadi mendengarkan juga Versailles, Gackt, dan Lareine.

Tapi, tetap saja aku belum menemukan nuansa rock dan kegelapan The Gazette.

Kemudian, melalui rekomendasi melalui sebuah blog penggemar, aku menemukan dan mendengarkan Kuroyume (黒夢), dan ini mendekati! Aku bisa melihat akar-akar dari kegelapan itu di Kuroyume. Sayangnya, musik mereka kurang "dalam" dan terlalu jujur--apakah aku bisa mengatakan kalau musik mereka mentah? Ya, aku rasa bisa. Secara teknik vokal juga. Meskipun Kiyoharu adalah vokalis yang sangat handal, berkarakter, dan kharismatik, vokalnya menurutku belum begitu dalam dan berteknik seperti Ruki. Bahkan, aku merasakan kalau Kuroyume malah kehilangan arahnya, dalam album-album berikutnya. Sayang sekali...

Sangat disayangkan...tapi, aku kemudian menemukan sesuatu!

Selanjutnya, aku mencoba mendengarkan band yang disebut-sebut sebagai salah satu inspirasi dari The Gazette itu sendiri, yaitu Dir en Grey. Aku membaca soal ini di beberapa blog. 

Aku pertama kali menonton di YouTube, live Dir en Grey di Wacken Open Air 2007. Saat pertama kali mendengarkan mereka, aku seketika, 

"Woyyyyyy ini The Gazette banget dong 😭!"

Bukan semata karena genrenya ya, tapi karena nuansa, teknik vokalnya, dan emosinya. Namun memang auranya sangat gelap. Aku tak menemukan semarak musik rock yang membuat kita "melompat-lompat" khas The Gazette. Tapi, Dir en Grey memberikan kita nuansa, bagaimana kita mengangguk-angguk, fokus, dan memperhatikan setiap proses, apa yang mereka tampilkan di atas panggung. 

Kalau untuk The Gazette, nuansa seperti ini akan kita dapatkan pada album "DIM" (2008), dan "Dogma" (2015). 

Pada Wacken Open Air 2007 itu, aku baru tau belakangan kalau Dir en Grey banyak membawakan lagu-lagu dari album "Withering to Death" (2005). Ada energi mentah di sana, tapi...teknik mereka sama sekali tidak mentahan. Produksi mereka mungkin agak mentah, tapi teknik masing-masing anggotanya sangat mumpuni. Aku bahkan tak pernah melihat hal semacam ini pada album-album The Gazette.

Mungkin satu-satunya album The Gazette yang "mentah" adalah "Disorder" (2004), tapi album itu benar-benar mentah, dengan kemampuan anggotanya yang juga masih belum sekuat album-album berikutnya.

Jadi, aku mendapatkan kelegaan, karena aku akhirnya bis menemukan band yang serupa dengan The Gazette. Dir en Grey memberikan apa yang aku butuhkan. Aku membutuhkan sisi emosional seperti X Japan, namun dengan nuansa rock, gelap, agak kasar, dalam, dan sinematik, seperti The Gazette. Aku menemukannya di Dir en Grey.

Komentar