Hobi Bli #6 - Musik Adalah Tentang Bagaimana Prinsip Hidupmu Terhubung
Karena itu adalah satu-satunya pohon yang berbuah di antara pohon-pohon lainnya di sekitar sana, maka, pohon itu memberikan kita perasaan koneksi kehidupan.
Karena koneksi kehidupan yang dalam, kita merawat pohon itu, menjaganya, dan saat ia berbuah, kita meminta padanya buah apel itu. Apel itu memberikan kita perasaan kenyang dan segar, yang membuat kita mengerti dan memaknai lebih dalam kehidupan ini.-
Apakah kalian pernah merasa, tidak bisa menyukai musisi, yang banyak orang di sekitar kalian menyukai musisi itu juga?
Aku mengalami hal tersebut, dan aku tidak mengerti kenapa aku bisa seperti itu.
Saking 'traumanya', kalau ada lagu musisi populer yang tanpa sengaja aku dengar, aku sering melarikan diri dari sumber datangnya lagu tersebut.
Sepertinya, aku seolah memiliki semacam 'mental block'.
Aku mendengar beberapa musisi. Tapi sebagian besar, atau bahkan semuanya, bukanlah musisi yang umum diketahui orang-orang di Indonesia. Paling tidak, aku mengamati ini di lingkup pertemananku, atau lingkup kehidupanku.
Apa saja yang aku dengarkan?
Aku sedikit sekali mendengar karya-karya musisi Indonesia. Tapi, saat aku memutuskan untuk mendengarkan mereka, aku akan mendalami setiap diskografi mereka.
Tapi, saat aku merasa, nilai-nilai hidupku sudah berbeda dengan "nilai hidup" musisi tersebut, aku akan meninggalkan musisi tersebut sejauh-jauhnya.
Tapi, musisi/penulis lagu Indonesia yang aku hormati, di antaranya adalah, Yockie Suryo Prayogo, Godbless, Guruh Soekarno Putra, hingga Eros Djarot.
Ada beberapa musisi Indonesia, yang diskografinya sempat aku bedah sedalam-dalamnya, tapi, karena perbedaan "nilai hidup"/ "perspektif hidup" itu, aku sudah meninggalkan karya-karya mereka.
Aku menyebut nama-nama seperti, Yockie Suryo Prayogo, Gurus Soekarno Putra, dan Eros Djarot, bukan? Kalau aku sudah menyebut 3 nama itu, harusnya aku menyebut 1 nama lagi. Sebuah nama yang melengkapi kepingan puzzle legendaris tersebut. Siapa lagi kalau bukan, Chrisye!
Ya aku sempat membedah setiap diskografi Chrisye. Aku sempat mengidolai dirinya dalam waktu yang lama. Sayangnya, aku tidak bisa melihat jati diri Chrisye, bahkan di setiap albumnya sendiri. Karena, sebagian besar lagu-lagu dalam albumnya, ditulis oleh orang lain.
Kemudian alasan lainnya? Karena banyak orang yang menyukai Chrisye. Hal ini membuatku tak nyaman.
Musisi, penulis lagu, dan komposer mancanegara
Kalau musisi/komposer mancanegara yang aku hormati, adalah seorang bernama Yoshiki Hayashi. Aku benar-benar membedah setiap diskografinya, baik bersama X Japan, hingga karir classical-nya.
Aku juga mengangumi Mana, yang merupakan salah satu bagian, sekaligus pendiri Malice Mizer. Bagaimana mungkin, aku tidak mengangumi karyanya yang berjudul "Au Revoir"?
Kalau musisi Barat, aku mengangumi Andre Popp, dengan salah satu karyanya yang abadi, berjudul, "Love is Blue". Sebuah komposisi yang merasuk, indah, namun menyesakkan hati.
Musisi Barat lainnya yang aku kagumi adalah, tentunya seorang legenda, Paul McCartney. Aku ingin mengatakan kalau aku mengagumi karya-karyanya bersama The Beatles. Aku ingin mengatakan kalau karyanya, "Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band", atau "Magical Mystery Tour", adalah karyanya yang aku kagumi. Tapi, hal itu membuatku tidak merasa terhubung secara privasi dengan Paul McCartney.
Jadi, aku akan mengatakan, dan secara jujur, karya Paul McCartney yang aku kagumi adalah, gubahan musiknya untuk soundtrack film "The Family Way" yang dirilis tahun 1967.
Komposer-komposer musik seni Barat
Bagian ini sering kali disebut sebagai "musik klasik". Namun sebenarnya istilah itu keliru, atau mungkin telah mengalami pergeseran makna universal, dari makna aslinya. Alih-alih menyebut "musik klasik", aku lebih suka menyebutnya sebagai "musik seni Barat”.
Aku juga mendengarkan musik seni Barat. Aku menonton dan mendengarkan pertunjukan Balet "Swan Lake", yang musiknya digubah oleh Pyotr Ilych Tchaikovsky. Aku juga menonton dan mendengar karyanya untuk pertunjukan Balet "The Nutcracker".
Meskipun tidak banyak, aku juga mendengarkan karya dari Johann Sebastian Bach, Frederic Chopin, Ludwig Van Beethoven, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Claude Debussy.
Aku tak bisa mengatakan tidak mengagumi karya-karya seperti, "Tocatta and Fugue in D Minor, BWV 565", "Air on G String", "Nocturne in E-flat major, Op. 9, No. 2", "Moonlight Sonata", "Fur Elise", "Rondo Alla Turca", hingga "Clair de Lune".
Musik adalah tentang bagaimana prinsip hidupmu terhubung
Hal tersebut juga membuatku nyaris tidak pernah menonton konser musik. Padahal termasuk tidak jarang ada konser musik di kotaku. Terutama di festival-festival. Tapi aku sama sekali tidak berminat menontonnya. Padahal aku ini penyuka musik. Seperti itulah jadinya.
Pernah di akhir tahun lalu, aku oleh ayahku, diajak menonton konser musik festival di lapangan kota. Aku merasa tidak nyaman menonton konser itu. Padahal yang tampil adalah musisi/band ternama.
Lagu mereka bagus-bagus. Tapi dalam hati aku bertanya,
"Apakah aku harus menyukai lagu ini? Apakah hal yang aku dapatkan, jika aku menyukai lagu ini? Untuk...apa?"
Semua orang tampak menikmati dan bersenang-senang. Sementara aku, memikirkan banyak lalu lintas pertanyaan di kepalaku. Aku merasa seperti, sebenarnya apa yang terjadi padaku.
Menurutku, musik itu sangat rumit dan privasi. Musik adalah tentang, bagaimana prinsip hidupmu terhubung.
Catatan :
Ilustrasi gambar postingan ini, menggunakan teknologi AI pengolah gambar, melalui ChatGPT.




Komentar
Posting Komentar